Per hari ini gue resmi "biru" !!!
Warna biru disini bukan menunjukkan suatu afiliasi suatu partai politik tertentu atau favoritisme akan sebuah tim sepak bola. Bukan... bukan itu. Bagi karyawan Kompas Gramedia (KG) pasti tahu betul maksudnya apa. Akan muncul latar belakang biru di foto kartu karyawan gue. Berbeda sebelumnya dengan latar belakang yang putih. Njur bedane opo?
Biru artinya gue sudah diangkat menjadi karyawan tetap grup KG! Puji Tuhan saya sudah diangkat jadi karyawan KG!
Saya ingat betul 24 Juni tahun lalu, 'vonis' itu dijatuhkan kepada saya. Terikat secara legal dan formal, saya dibuat mereka menerima tawaran yang tidak boleh saya jawab tidak.
Pada awalnya, penempatan saya di unit usaha tempat saya kerja saat ini merupakan 'mimpi buruk'.
Pangkal persoalnya, tidak pernah saya mahir dalam angka-angka. Sejak sekolah dasar sampai SMA, guru-guru jarang sekali menghiasi tinta biru di kolom matematika raportku. Ketika membaca koran tidak pernah saya menyempatkan diri mampir ke rubrik ekonomi untuk sekedar mengetahui kondisi ekonomi saat ini. Saat mampir ke toko buku, tak pernah saya mampir rak kumpulan buku ekonomi. "Ga minat," batin saya saat itu. Sekolahku pun komunikasi. Genap sudah...
Tidak cuma itu, hati saya waktu itu hancur berkeping-keping menemukan diri saya merasa gagal masuk ke media yang aku inginkan, setelah mencicipi magang selama dua bulan disana.
Air mata tumpah saat itu... Ya takut, ya kecewa, ya merasa terzolimi karena beberapa teman diberi kesempatan nego, sementara keputusan untuk saya seperti vonis yang tidak bisa saya tolak.
Bapak dan Ibu buru-buru memberi dorongan. Mereka bilang, tak apa, sudah merupakan prestasi saya hanya nganggur enam hari saja setelah yudisium untuk segera dapat pekerjaan. Jutaan lulusan perguruan tinggi di luar sana masih menganggur.
Saya kumpulkan sisa-sisa semangat saya. Pulang dari Palmerah, saya mampir beli buku pengantar ekonomi, tak lupa memborong tabloid dan harian tempatku bekerja.
Muncul satu tekad bahwa, saya akan kuasai bidang ini! Saya menolak menyerah! pepatah mengatakan the sweetest 'revenge' adalah menunjukkan kesuksesan! And I say, I go for it!
Kemudian saya ikut kelas persiapan perdana 3 hari, berisi sejarah dan visi misi perusahaan, pengantar ekonomi, dan teknik reportase dasar serta menembus narasumber. Besoknya pertempuran yang sebenarnya dimulai. Betul-betul roaming saya saat itu. "Ini orang ngomong apa sih? Apa itu fee based income? apa itu net interest margin? apa itu loan to value? what the!!!"
Menolak menyerah, akhirnya ku catat saja semua yang diomongin itu narsum di hapeku. Ya semuanya! Ga tahu deh itu omongan 'daging' apa 'kulit' yang bisa dimasak jadi berita. Catet aja semua.
Tiba saat listing berita ke asisten redaktur (asred), ku kirimkan saja semua hasil catatanku. Sontak si mas asred berkata, "Lu kirimin gw listingan apa rilis?". Ya apa daya, aku memang tak tahu mau menulis berita apa? Semalam memang sudah persiapan dengan melakukan riset, tapi rasa-rasanya masih belum cukup. "Maaf bang, gue belum tahu mau nulis apa. Itu yang gw dapet tadi. Mohon ijin bimbingan dan bantuannya bang," jawab gw. Akhirnya mas asred menyuruhku ke kantor dan dia mengajariku.
Dua minggu pertama hidupku terasa berat sekali. Berkali-kali aku membatin, "Kapan setahun ya?". Setiap hari belajar, tapi masih saja roaming.
Kemudian saya pun memutuskan untuk mengambil cicilan sepeda motor untuk meningkatkan mobilitas dalam liputan. Gue pun sudah bertekad sejak semester 7, sudah tidak pernah lagi minta uang dari orangtua (malu dong cuy, anak laki uda gede masih minta duit). Sejak nyicil motor itulah gw belajar dan berubah menjadi seperti saat ini. Gw belajar perencanaan keuangan, karena harus survive dengan gaji yang akan dipotong untuk cicilan motor, makan, pulsa, bensin, parkir, dan harus bisa kusisihkan untuk investasi / tabungan, dan dana darurat. Seiring dengan berjalannya waktu, gw banyak bergaul dengan perencanaan keuangan, dan semakin mengerti teknik-teknik perencanaan keuangan berinvestasi yang benar.
Menolak untuk roaming setiap hari, setiap habis liputan, gw menyempatkan balik ke kantor, untuk membaca fasilitas archive di kantor. Itu adalah fasilitas untuk membaca berita lama yang sudah terbit. Aku belajar isu ekonomi disitu, mempelajari cara kerja ekonomi disitu, mempelajar pola penulisan berita disitu, banyak hal. Sampai saya pulang dengan kereta jam 10an keatas (waktu itu motor gue masih indent, jadi kemana-mana masih ngeteng hahahaa). Di rumah pun gw belajar nanya bokap nyokap yang notabene lulusan ekonomi. Pagi hari selalu gw menyempatkan diri membaca koran kantor, pahami isu kantor. Minggunya baca tabloid dapatkan pemahaman lebih indephtnya.
Rupanya perlahan-lahan proses belajarku membuahkan hasil. Gw saat itu bisa berkata, "Oh ekonomi tuh begini toh." Saat sudah mengerti, alur flow itu enak sekali. Semua bersifat kausalitas, sebab akibat, c terjadi karena a dan b begini, dan seterus-seterusnya. Rupanya dunia ekonomi itu bisa diringkas dalam 24 halaman harian KONTAN. Dan saya bisa menjelaskan kepada anda cukup dengan 3 lembar kertas saja, dalam waktu 30 menit! (buset sombong banget gue yak! baru anak kemaren sore belajar ekonominya! hahahaa)
Percaya diri itu pun datang. Tak ada lagi ketakutan ataupun keraguan saat bertanya ke narasumber, ataupun saat menulis berita. Gw tingkatkan terus kinerja gue. Yah tak dipungkiri ada kalanya jenuh, dan sebal dengan atasan. Yah namanya juga orang kerja, ya kali gada sebel-sebelnya hahahaa.
Namun saya akui saya harus masih banyak belajar. Untuk beberapa rubrik saya hanya tahu umumnya saja, masih belum mendalami secara teknis. Tapi secara garis besar mengerti apa yang dibicarakan.
Sampai akhirnya hari ini saya diberikan surat yang menyatakkan saya resmi Biru. Makasih Kontan. Gw masih punya berbagai impian karier, haus akan ilmu. Merentangkan sayap dan terbang bebas.
Reportase Jurnalistik, The Story Behind The News, Opini dan Idealisme, Karya Sastra, Catatan Perjalanan dan Kehidupan.
Saturday, July 12, 2014
Saturday, May 17, 2014
Menyajikan Kualitas Demi Kepentingan Publik (Resensi Buku Ignatius Haryanto)
Menyajikan media yang berkualitas yang telah penuhi unsur-unsur jurnalistik yang ideal. Sajikan informasi yang berkualitas tersebut untuk kepentingan publik. Saya kira dua hal itulah yang menjadi ide pokok utama yang ingin digagas dalam buku "Jurnalisme Era Digital" karya Ignatius Haryanto.
Sekitar seminggu yang lalu, waktu menunjukkan bahwa satu setengah jam lagi, hari akan berganti. Saya taruh tas dan berselonjoran di kasur, melepas lelah dan penat setelah seharian penuhi tugas sebagai pewarta berita. Sambil selonjoran, saya rogoh telepon genggam dari kantung celana. Saya tengok recent updates kontak Blackberry Messanger. Wah ada yang menarik nih!
Di antara celotehan dan curhatan, ada yang menarik di recent updates status BBM daftar kontak saya. Hal itu datang dari kontak BBM dari sang dosen-ku saat kuliah, Ignatius Haryanto. Dia mengganti profile picture-nya dengan gambar sebuah cover buku berjudul "Jurnalisme Era Digital". Adapun status BBM-nya kira-kira begini bunyinya, "Telah keluar buku terbaru saya, di toko buku terdekat." Bagai tersengat, mata saya yang tadi setengah mengantuk, mendadak langsung segar.
"Menarik!" batin saya. Mengapa saya katakan menarik? Pertama karena saya tahu betul kualitas dan dedikasi Pak Har, biasa saya memanggil beliau demikian, sebagai seorang peniliti cum pengamat media. Tentu tulisan buah karya beliau tidak sembarangan kualitasnya. Yang kedua adalah, saya pribadi, sebagai wartawan kemarin sore, merasakan betul bagaimana menjadi pewarta berita di era digital ini. Saya ingin tahu 'diagnosis' Pak Har tentang fenomena yang terjadi di dunia jurnalistik saat ini. Singkat cerita, tak perlu alasan lain lagi, buku ini telah bertengger rapi di lemari buku kamar saya melengkapi buku-buku karangan beliau yang lain seperti The New York Times dan Indonesia Raya.
Buku ini adalah kumpulan tulisan beliau yang berserakkan di media-media. Tak lupa kredit saya sampaikan kepada teman saya Mariska Vergina - seangkatan alumni Universitas Multimedia Nusantara - yang kini bekerja sebagai editor di penerbitan Kompas, yang atas inisiatifnya menerbitkan buku ini. Sebelumnya saya sudah mendengar kabar soal usulan Mariska soal buku ini. Then, Voila! Makasih ya Mariska!
Seperti Dokter
Melalui buku ini, saya merasa Pak Har semakin mematenkan posisinya sebagai salah satu peneliti media di Indonesia. Pasalnya Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) ini, mampu mendiagnosis fenomena-fenomena dan dinamika dunia media saat ini, lalu mampu menawarkan gagasan ideal soal bagaimana jurnalistik dan dunia media ini dijalankan.
Menurut saya, seorang pengamat itu sama seperti seorang dokter. Seorang dokter mampu memeriksa gejala-gejala penyakit si pasien, mendiagnosis penyebabnya, lalu menawarkan solusi pengobatan dari penyakit tersebut. Sama seperti seorang pengamat. Seorang pengamat harus mampu mendiagnosis fenomena yang terjadi lapangan, lalu menawarkan solusi permasalahan. Adapun Pak Har menurut kacamata saya sudah betul-betul penuhi kriteria tersebut.
Saya kira media, pekerja media dan publik saat ini tengah berjalan berdampingan dalam rimba 'kebaruan' karena perkembangan media dan teknologi. Rupanya ketiga pihak tersebut, seperti bingung, bagaimana idealnya media itu? Pasalnya perkembangan teknologi mempengaruhi cara kerja pelaku media, juga bagaimana publik mengkonsumsi media itu sendiri. Melalui buku ini, Pak Har menampilkan secara lugas, kritis dalam menulis duduk persoalan fenomena yang terjadi di dunia jurnalistik saat ini. Namun tentu yang paling saya suka dari beliau adalah bagaimana beliau bisa meramu tulisannya dengan jernih, runut, mudah dipahami dan ga perlu mengernyitkan dahi untuk menelan tulisan beliau.
Saya sebagai wartawan kemarin sore yang belum genap setahun terjun di dunia jurnalistik, saya merasakan betul dinamika dan dunia jurnalistik. Bagaimana kecepatan dan kuantitas berkoalisi melawan kualitas berita, banjir informasi memenuhi saya, konglomerasi media, konvergensi media, itu betul-betul nyata dalam hidup saya. Dengan membaca buku ini, saya seperti pasien yang berkunjung ke dokter, dan Pak Har adalah dokter yang mendiagnosis saya dan memberikan gagasan ideal solusinya.
Menyajikan Informasi yang Berkualitas
Sebagai contoh, saya tersentil betul di artikel yang berjudul "Jurnalisme Blackberry". Di artikel ini beliau memaparkan bagaimana perangkat Blackberry bisa merubah cara kerja jurnalis di lapangan. Dengan BB, segala kerja jurnalistik menjadi lebih mudah. Mencari background informasi dari berita sebelumnya tinggal googling, saat doorstop rekam, catat dengan cepat, kirim berita hanya dalam hitungan detik. Tapi hasilnya? akurasinya? Apakah berita sudah menerapkan prinsip ideal jurnalistik?
Artikel lain yang tak kalah menggelitik adalah "Jurnalisme dan Media Sosial". Senada dengan artikel "Jurnalisme Blackberry", Pak Har ingin menyampaikan bahwa rupanya perubahan teknologi rupanya juga mempengaruhi kinerja wartawan dan bagaimana masyarakat mengkonsumsi media. Dalam artikel ini, beliau menyoroti bahwa media mainstream mengutip status media sosial (facebook, twitter, linked-in, dan rupa-rupa sosmed lainnya) dari orang ternama, untuk dijadikan berita. Pertanyaan sama pun terlontar, apakah berita itu sudah menerapkan prinsip ideal jurnalistik?
Pak Har juga menjawab salah satu kegelisahan saya, soal keberlangsungan media cetak di tengah terpaan banjir informasi media online dan media alternatif lainnya. Dalam artikel berjudul "Revitalisasi Media Cetak di Indonesia" beliau memberikan solusi nyata untuk pertahankan keberlangsungan media cetak di Indonesia. Berikut saya kutip kalimat beliau:
".... media cetak sebenarnya tetap bisa bertahan kokoh, asal mau menjalankan sejumlah syarat ini: sumber daya manusia dari media cetak terus dikembangkan, produk informasi yang dihasilkan dikemas lebih mendalam, dan menghasilkan laporan-laporan investigatif yang ekslusif."
Dari kalimat itu, gampangnya saya terjemahkan, kalau koran anda mau bertahan, ya tawarkan informasi yang berkualitas. Orang mau beli koran anda karena percaya pada kualitas dan kebenaran berita di dalamnya.
Demi Kepentingan Publik
Selain menyoroti fenomena jurnalistik di era digital, Pak Har juga membahas soal bagaimana tantangan dan dinamika dunia kejurnalistikkan Indonesia. Adapun masalah-masalah yang dibahas adalah seperti konglomerasi media, pemilik media cum politisi, kuasa iklan terhadap newroom yang potensi mengancam akses publik atas informasi yang berkualitas.
Tengok artikel "Manuver Industri Media" yang membahas soal konglomerasi media. Dalam artikel ini Pak Har mempertanyakan, apakah dengan adanya pemilik yang sama dari berbagai media multiplatform di Indonesia ini bagus untuk publik? Apakah bisa meningkatkan kualitas informasi yang diperoleh untuk publik? Ataukah para pemilik media itu hanya mengejar faktor ekonomis semata tanpa indahkan kualitas informasi ke publik? Bagaimana dampaknya ke pekerja media, apakah dengan adanya konglomerasi media juga serta-merta meningkatkan kesejahteraan pekerja media? atau...? silakan jawab sendiri.
Mendorong agar publik betul-betul memperoleh informasi yang berkualitas, nampak sekali dalam artikel berjudul "Siapa Peduli Dewan Pengawas TVRI?". Dalam artikel ini beliau menyoroti soal hilangnya peran TVRI sebagai siaran televisi publik yang bisa mengimbangi televisi swasta nasional yang kontennya didorong oleh motiv ekonomi, kepentingan pemilik, dan favoritisme terhadap golongan partai politik tertentu.
Selain itu, Pak Har juga mengangkat berbagai isu soal jurnalistik seperti fungsi serikat pekerja yang ideal, konsep jurnalisme damai yang tepat, dinamika pers daerah, bagaimana wartawan berlaku bila beritanya keliru, dan masih banyak isu yang diangkat di buku ini. Buku ini komplit mengkaji fenomena jurnalistik, mendiagnosisnya, lalu menawarkan gagasan ideal bagaimana seharusnya jurnalistik itu di jalankan.
Menyajikan media yang berkualitas yang telah penuhi unsur-unsur jurnalistik yang ideal. Sajikan informasi yang berkualitas tersebut untuk kepentingan publik. Saya kira dua hal itulah yang menjadi ide pokok utama yang ingin digagas dalam buku "Jurnalisme Era Digital" karya Ignatius Haryanto.
- Semoga bisa terus menjaga ide gagasan soal jurnalisme yang berkualitas -
Sekitar seminggu yang lalu, waktu menunjukkan bahwa satu setengah jam lagi, hari akan berganti. Saya taruh tas dan berselonjoran di kasur, melepas lelah dan penat setelah seharian penuhi tugas sebagai pewarta berita. Sambil selonjoran, saya rogoh telepon genggam dari kantung celana. Saya tengok recent updates kontak Blackberry Messanger. Wah ada yang menarik nih!
Di antara celotehan dan curhatan, ada yang menarik di recent updates status BBM daftar kontak saya. Hal itu datang dari kontak BBM dari sang dosen-ku saat kuliah, Ignatius Haryanto. Dia mengganti profile picture-nya dengan gambar sebuah cover buku berjudul "Jurnalisme Era Digital". Adapun status BBM-nya kira-kira begini bunyinya, "Telah keluar buku terbaru saya, di toko buku terdekat." Bagai tersengat, mata saya yang tadi setengah mengantuk, mendadak langsung segar.
"Menarik!" batin saya. Mengapa saya katakan menarik? Pertama karena saya tahu betul kualitas dan dedikasi Pak Har, biasa saya memanggil beliau demikian, sebagai seorang peniliti cum pengamat media. Tentu tulisan buah karya beliau tidak sembarangan kualitasnya. Yang kedua adalah, saya pribadi, sebagai wartawan kemarin sore, merasakan betul bagaimana menjadi pewarta berita di era digital ini. Saya ingin tahu 'diagnosis' Pak Har tentang fenomena yang terjadi di dunia jurnalistik saat ini. Singkat cerita, tak perlu alasan lain lagi, buku ini telah bertengger rapi di lemari buku kamar saya melengkapi buku-buku karangan beliau yang lain seperti The New York Times dan Indonesia Raya.
Buku ini adalah kumpulan tulisan beliau yang berserakkan di media-media. Tak lupa kredit saya sampaikan kepada teman saya Mariska Vergina - seangkatan alumni Universitas Multimedia Nusantara - yang kini bekerja sebagai editor di penerbitan Kompas, yang atas inisiatifnya menerbitkan buku ini. Sebelumnya saya sudah mendengar kabar soal usulan Mariska soal buku ini. Then, Voila! Makasih ya Mariska!
Seperti Dokter
Melalui buku ini, saya merasa Pak Har semakin mematenkan posisinya sebagai salah satu peneliti media di Indonesia. Pasalnya Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) ini, mampu mendiagnosis fenomena-fenomena dan dinamika dunia media saat ini, lalu mampu menawarkan gagasan ideal soal bagaimana jurnalistik dan dunia media ini dijalankan.
Menurut saya, seorang pengamat itu sama seperti seorang dokter. Seorang dokter mampu memeriksa gejala-gejala penyakit si pasien, mendiagnosis penyebabnya, lalu menawarkan solusi pengobatan dari penyakit tersebut. Sama seperti seorang pengamat. Seorang pengamat harus mampu mendiagnosis fenomena yang terjadi lapangan, lalu menawarkan solusi permasalahan. Adapun Pak Har menurut kacamata saya sudah betul-betul penuhi kriteria tersebut.
Saya kira media, pekerja media dan publik saat ini tengah berjalan berdampingan dalam rimba 'kebaruan' karena perkembangan media dan teknologi. Rupanya ketiga pihak tersebut, seperti bingung, bagaimana idealnya media itu? Pasalnya perkembangan teknologi mempengaruhi cara kerja pelaku media, juga bagaimana publik mengkonsumsi media itu sendiri. Melalui buku ini, Pak Har menampilkan secara lugas, kritis dalam menulis duduk persoalan fenomena yang terjadi di dunia jurnalistik saat ini. Namun tentu yang paling saya suka dari beliau adalah bagaimana beliau bisa meramu tulisannya dengan jernih, runut, mudah dipahami dan ga perlu mengernyitkan dahi untuk menelan tulisan beliau.
Saya sebagai wartawan kemarin sore yang belum genap setahun terjun di dunia jurnalistik, saya merasakan betul dinamika dan dunia jurnalistik. Bagaimana kecepatan dan kuantitas berkoalisi melawan kualitas berita, banjir informasi memenuhi saya, konglomerasi media, konvergensi media, itu betul-betul nyata dalam hidup saya. Dengan membaca buku ini, saya seperti pasien yang berkunjung ke dokter, dan Pak Har adalah dokter yang mendiagnosis saya dan memberikan gagasan ideal solusinya.
Menyajikan Informasi yang Berkualitas
Sebagai contoh, saya tersentil betul di artikel yang berjudul "Jurnalisme Blackberry". Di artikel ini beliau memaparkan bagaimana perangkat Blackberry bisa merubah cara kerja jurnalis di lapangan. Dengan BB, segala kerja jurnalistik menjadi lebih mudah. Mencari background informasi dari berita sebelumnya tinggal googling, saat doorstop rekam, catat dengan cepat, kirim berita hanya dalam hitungan detik. Tapi hasilnya? akurasinya? Apakah berita sudah menerapkan prinsip ideal jurnalistik?
Artikel lain yang tak kalah menggelitik adalah "Jurnalisme dan Media Sosial". Senada dengan artikel "Jurnalisme Blackberry", Pak Har ingin menyampaikan bahwa rupanya perubahan teknologi rupanya juga mempengaruhi kinerja wartawan dan bagaimana masyarakat mengkonsumsi media. Dalam artikel ini, beliau menyoroti bahwa media mainstream mengutip status media sosial (facebook, twitter, linked-in, dan rupa-rupa sosmed lainnya) dari orang ternama, untuk dijadikan berita. Pertanyaan sama pun terlontar, apakah berita itu sudah menerapkan prinsip ideal jurnalistik?
Pak Har juga menjawab salah satu kegelisahan saya, soal keberlangsungan media cetak di tengah terpaan banjir informasi media online dan media alternatif lainnya. Dalam artikel berjudul "Revitalisasi Media Cetak di Indonesia" beliau memberikan solusi nyata untuk pertahankan keberlangsungan media cetak di Indonesia. Berikut saya kutip kalimat beliau:
".... media cetak sebenarnya tetap bisa bertahan kokoh, asal mau menjalankan sejumlah syarat ini: sumber daya manusia dari media cetak terus dikembangkan, produk informasi yang dihasilkan dikemas lebih mendalam, dan menghasilkan laporan-laporan investigatif yang ekslusif."
Dari kalimat itu, gampangnya saya terjemahkan, kalau koran anda mau bertahan, ya tawarkan informasi yang berkualitas. Orang mau beli koran anda karena percaya pada kualitas dan kebenaran berita di dalamnya.
Demi Kepentingan Publik
Selain menyoroti fenomena jurnalistik di era digital, Pak Har juga membahas soal bagaimana tantangan dan dinamika dunia kejurnalistikkan Indonesia. Adapun masalah-masalah yang dibahas adalah seperti konglomerasi media, pemilik media cum politisi, kuasa iklan terhadap newroom yang potensi mengancam akses publik atas informasi yang berkualitas.
Tengok artikel "Manuver Industri Media" yang membahas soal konglomerasi media. Dalam artikel ini Pak Har mempertanyakan, apakah dengan adanya pemilik yang sama dari berbagai media multiplatform di Indonesia ini bagus untuk publik? Apakah bisa meningkatkan kualitas informasi yang diperoleh untuk publik? Ataukah para pemilik media itu hanya mengejar faktor ekonomis semata tanpa indahkan kualitas informasi ke publik? Bagaimana dampaknya ke pekerja media, apakah dengan adanya konglomerasi media juga serta-merta meningkatkan kesejahteraan pekerja media? atau...? silakan jawab sendiri.
Mendorong agar publik betul-betul memperoleh informasi yang berkualitas, nampak sekali dalam artikel berjudul "Siapa Peduli Dewan Pengawas TVRI?". Dalam artikel ini beliau menyoroti soal hilangnya peran TVRI sebagai siaran televisi publik yang bisa mengimbangi televisi swasta nasional yang kontennya didorong oleh motiv ekonomi, kepentingan pemilik, dan favoritisme terhadap golongan partai politik tertentu.
Selain itu, Pak Har juga mengangkat berbagai isu soal jurnalistik seperti fungsi serikat pekerja yang ideal, konsep jurnalisme damai yang tepat, dinamika pers daerah, bagaimana wartawan berlaku bila beritanya keliru, dan masih banyak isu yang diangkat di buku ini. Buku ini komplit mengkaji fenomena jurnalistik, mendiagnosisnya, lalu menawarkan gagasan ideal bagaimana seharusnya jurnalistik itu di jalankan.
Menyajikan media yang berkualitas yang telah penuhi unsur-unsur jurnalistik yang ideal. Sajikan informasi yang berkualitas tersebut untuk kepentingan publik. Saya kira dua hal itulah yang menjadi ide pokok utama yang ingin digagas dalam buku "Jurnalisme Era Digital" karya Ignatius Haryanto.
- Semoga bisa terus menjaga ide gagasan soal jurnalisme yang berkualitas -
Saturday, February 8, 2014
Mengejar Kabar yang Tertinggal
Hai semua!
Wah uda lama banget gue ga ngepost lagi di blog ini. Agaknya saya berhutang maaf dan penjelasan soal alasan kepada para pemirsa blog (semacam blog trafic tinggi aja gw :p) Anyway, let's just keep moving forward and updated, shall we?
Banyak hal yang terjadi semenjak pos terakhir gw. Gw mulai masuk kerja, jadi reporter/jurnalis di KONTAN (Media Bisnis dan Investasi) anak usaha dari Grup Kompas Gramedia, gw nyicil motor, pay the bill before the deadline every month, and so on...and so on...
Genap 7 bulan gw kerja, jadi karyawan. Pay my own bill, buy everything i want, all the power is in my hand now.
Menurut gw, ada satu slogan dari sebuah lembaga keuangan yang gw setuju banget, "hidup itu jangan nanti gimana, tapi gimana nanti". Itu membuat lebih cermat dalam membuat budgeting dan perencanaan serta sisihkan untuk investasi.
Oiya, satu lagi, salah satu alasan kenapa gw uda jarang sekali ngeblog, adalah karena setiap hari gw uda menulis. Yaiyalah gw reporter cetak! Hehehe. Dengan jam kerja yang sangat ekstrim fleksibel (maksudnya ekstrim berangkat subuh, atau pulang larut, atau hari libur pun masuk demi berita), plus ditambah kemacetan Jakarta yang bikin orang jadi pengen nelen buah duren tapi dibelah, gw ngerasa uda ga punya sisa power lagi di rumah. Kecuali untuk tidur, say hi dengan keluarga gw, dan sedikit2 riset untuk liputan gw besoknya.
Jadi itulah sejumput permintaan maaf dan alasan, absennya saya di blog ini.
Tabik
Wah uda lama banget gue ga ngepost lagi di blog ini. Agaknya saya berhutang maaf dan penjelasan soal alasan kepada para pemirsa blog (semacam blog trafic tinggi aja gw :p) Anyway, let's just keep moving forward and updated, shall we?
Banyak hal yang terjadi semenjak pos terakhir gw. Gw mulai masuk kerja, jadi reporter/jurnalis di KONTAN (Media Bisnis dan Investasi) anak usaha dari Grup Kompas Gramedia, gw nyicil motor, pay the bill before the deadline every month, and so on...and so on...
Genap 7 bulan gw kerja, jadi karyawan. Pay my own bill, buy everything i want, all the power is in my hand now.
Menurut gw, ada satu slogan dari sebuah lembaga keuangan yang gw setuju banget, "hidup itu jangan nanti gimana, tapi gimana nanti". Itu membuat lebih cermat dalam membuat budgeting dan perencanaan serta sisihkan untuk investasi.
Oiya, satu lagi, salah satu alasan kenapa gw uda jarang sekali ngeblog, adalah karena setiap hari gw uda menulis. Yaiyalah gw reporter cetak! Hehehe. Dengan jam kerja yang sangat ekstrim fleksibel (maksudnya ekstrim berangkat subuh, atau pulang larut, atau hari libur pun masuk demi berita), plus ditambah kemacetan Jakarta yang bikin orang jadi pengen nelen buah duren tapi dibelah, gw ngerasa uda ga punya sisa power lagi di rumah. Kecuali untuk tidur, say hi dengan keluarga gw, dan sedikit2 riset untuk liputan gw besoknya.
Jadi itulah sejumput permintaan maaf dan alasan, absennya saya di blog ini.
Tabik
Wednesday, June 19, 2013
Pesta Media 2013
PESTA MEDIA 2013 AJI Jakarta
Sabtu-Minggu, 22-23 Juni 2013
di Galeri Nasional (depan Stasiun Gambir) Jakarta
Gratis & Terbatas
daftarkan diri Anda melalui situs www.pestamedia.com
Sabtu 22 Juni 2013
Pukul 10.00 WIB
- Workshop Fotografi (Ali Lutfi, fotografer profesional pemenang World
Press Photo 2012)
- Workshop Meliput Pemilu 2014 (Didik Supriyanto, Pemred Merdeka.com)
- Workshop Berbisnis UKM melalui Internet (Harry Van Yogya, tukang
becak menjaring konsumen lewat Twitter @becakcitytour; Pandu Irawan,
Digital Advertising AdPlus; Sammy Pangerapan, Ketua Umum Asosiasi
Penyedia Jasa Internet Indonesia)
Pukul 13.00 WIB
- Training Menulis Blog (Donny BU, aktivis Internet Sehat; Wisnu
Nugroho, jurnalis Kompas dan blogger terkenal Kompasiana.com, penulis
Pak Beye dan Istananya)
- Di Balik Liputan Investigasi (Arief Zulkifli, Redaktur Eksekutif
Majalah Tempo; Teddy Gumilar, Kontan; Odit Praseno dan Nima Sirait,
Kompas TV)
- Seminar Serikat Pekerja untuk Menaikkan Independensi dan
Kredibelitas Media (Wahyu Muryadi, Ketua Forum Pemred; Nezar Patria,
Dewan Pers; Chairul Tanjung, Chairman CT Corp*)
Pukul 16.00 WIB
- Workshop Membuat Sketsa
Pukul 19.00 WIB
- Pertunjukan Musik: Inna Kamarie, Tika & The Dissident, Payung Teduh
Minggu 23 Juni 2013
Pukul 10.00 WIB
- Kelas Menjadi Presenter Televisi (Rosiana Silalahi, mantan Pemred
Liputan6 SCTV)
- Workshop Membuat Film Pendek (Samaria Simantjuntak, sutradara film
Demi Ucok*)
- Workshop Menulis Fiksi ( Leila S Chudori, penulis novel Pulang
berkisah Gerakan 30 September 65, Mei 68 di Paris, Mei 98 di Jakarta)
Pukul 13.00 WIB
- Seminar Memilih Games Sehat untuk Anak (dokter Adre Mayza, ahli
saraf RSCM; Eko Nugroho, desainer game dan CEO Kummara Creative Studio)
- Lomba Stand Up Comedy (juri Tretan Muslim)
Pukul 19.00 WIB
- Malam Pesta Media : Seno Gumira Ajidarma (sastrawan senior
Indonesia), Anugerah Apresiasi Jurnalis Jakarta
- Pertunjukan musik: John Tobing, Steven Jam.
Subscribe to:
Posts (Atom)
