Reportase Jurnalistik, The Story Behind The News, Opini dan Idealisme, Karya Sastra, Catatan Perjalanan dan Kehidupan.
Monday, March 16, 2015
Kita Menyebutnya Ibukota
Namun tetap kita berharap sebongkah berkah
Pagi di Jakarta itu selalu kemrungsung
Namun tetap kita berharap setiap saat dada kita selalu membusung
Di Jakarta, detik waktu pun bisa ambil peran antogonis
Nomor wahid soal tuna kompromis
Di Jakarta, langit cerah beserta barisan awan pun seolah kita hirau
Lebih acuh kita dengan keluh akan peluh
Saat langit mendung, kita tahu bencana sedang terkandung
Hujan bagi pujangga adalah puisi
Namun hujan di Jakarta adalah tragedi
Menumpang angkutan, mata menggeliat ke kiri dan kanan
Awasi penumpang tak diundang dengan niatan tak berkenan
Pengendara roda dua sudah lupa nikmatnya hembusan angin segar
Asap lebih akrab di pernapasan
Buat roda empat dan lebih, parkir mengular berjemaah di jalanan itu sudah biasa
Putaran mesin sampai lupa cara berlari
Beruntung bagi kelas pekerja, yang masih rekreasi
Bagi yang liyan, vakansi hanya imaji
Lahan kapitalis tumbuh subur
Ibukota bersabda, memang harus kapitalis agaknya agar hidup naik terkatalis
Selamat datang di Jakarta
Kita Menyebutnya Ibukota
Wednesday, June 12, 2013
Gusaran
Enigma dengan episode: masa depan, masa sekarang, dan masa belakang
Pun larut dalam bujuk rayu nyaman gemerlap kristal keringat masa lalu
Apakah semua itu hanya gincu palsu bikin semu kaburkan tuju?
Apakah aku terkekang dalam gelanggang?
Sebuah gelanggang yang kulahirkan itukah?
Pula kemudian menyeruak ingin menagih
Ingin kubayar lunas semua yang belum sempat berbuih
Nyinyir lirih kudengar seruan kebebasan
Apakah belum cukup itu semua pemberian?
Bagaimana dengan mereka yang terpaksa siap karena keadaan?
Apakah kemarin aku tidak natural?
Larut dalam obsesi situasional yang saat kutiba disana, malah aku yang delusional?
Apakah tulus itu naif?
Tak ada kaitan, apakah memang harus demikian untuk hidup?
Agaknya kali ini kehidupan menawarkan pelajaran rupanya
Kata bijak cendikiawan, itu namanya mencari kebenaran
Mahkota
Bicara mereka padaku, bangga mereka padaku
Benar dan pantaskah, tertuju mereka padaku?
Tengok ke belakang, dan angguk kepalaku
Ya, aku pernah ciptakan ini!
Namun, kemarin kenapa aku hilang?
Seperti bukan aku yang mereka elukan
Bagai minum hingga mabuk, padahal perut masih lapar
Saturday, August 13, 2011
Balada malam itu
Temaram lampu bertengger di pojok jalan
Sayup suara musik mengalun tanpa gelisah
Berlarian melodi menemani
Berkejaran dalam keheningan
yang menggoda untuk dipecahkan
oleh sebuah pelukan dan kecupan
Bibirmu penuh dengan bisik angin
Terjerembab dalam suatu masa
Melaju menempuh ruang dalam suatu dimensi
Wednesday, August 10, 2011
Ruang Bersenda
Dan alam semesta mempertemukan aku dan dia dalam dirimu
Berupa ruanglah dirimu, mengizinkanku dan dia bernaung di dalamnya
Aku duduk di sebelah kanan, mengarahkan seluruh kerja gerak untuk mengantarkan kita kesana
Dirinyalah yang duduk hinggap di sebelah kiri tuk menemaniku
Penuh senda kami berdua, meniup pergi sepi yang biasa menghinggapi
Bukan melulu soal senda, pun tukar pikiran terlempar antara aku dan Dia
Perlahan mengikis dinding dingin proksemik
Dan kamu memainkan peranmu sebagai saksi bisu ketika eros perlahan menyembul dan menawarkan pesonanya untuk kedua hati kami
090811
Thursday, August 4, 2011
Definisi
Ketika suatu sirkumstansi tak lagi jernih, ambivalensi menyeruak dan menyerebak ke seluruh jajaran pengetahuan, maka adalah suatu kebutuhan yang urgensi untuk membuat suatu definisi. Definitio, sebuah kata serapan dari bahasa Latin yang artinya batas. Suatu pagar untuk melingkupi ide agar tidak melenceng. Uniknya, kata ini menjulang ke permukaan bukan melulu untuk menunaikan tugasnya membuat suatu pengertian, tapi juga merupakan penegasan atas suatu ketidaktahuan atas suatu situasi. Tentu saja hal ini merupakan jawaban atas urgensitas sirkumstansi ini. Namun yang dirasa ada di balik definisi itu, sudah tidak perlu diragukan lagi. Dirasa pula kedua individu telah mengangguk setuju walau tanpa yuridis definisi itu. Kebutuhan urgensi atas definisi itu diperlukan untuk menunaikan ketidakpastian yang pasti dirasa jalinan antar individu tersebut. Tinggal tugas individu tersebut melontarkan sabda, maka definisi akan sirkumstansi itu akan tercipta.
Monday, March 21, 2011
Noktah, Tatal, Mozaik Menuju Utuh
Tak ubahnya sepotong surga, begitulah inderaku menangkapmu
Seketika sangkakala mengumandang menggelora, pesonamu datang menyentuhku
Mungkin saat ini, aku tak ubahnya noktah di tengah kepungan garis-garis arus besar
Namun ingat garis pun berasal dari noktah yang tumbuh dan berkembang. Aku akan mencoba keluar, menyeruak, membuat guratan sampai akhirnya tatal tercacar. Hingga akan mudah kau jumpai, seperti pesonamu menggetarkan romaku yang senantiasa hadir dengan jari-jemarinya yang manis.
Layaknya tatal tercacar, begitu pula kepingan mozaik-mozaik yang tersebar. Kan kususun milikmu sambil menawarkan kembali mozaikku yang terbaik untuk juga kau susun. Berharap, kita berjumpa di tengah, mengisi kepingan mozaik yang terbelah. Merapat, menyatu, menjadi Utuh.
Ad Maiorem Dei Gloriam
Bene Krisna
Saturday, October 9, 2010
Anugerah di balik Ilusi
Ilusi yang mengaburkan konsentrasi
Ilusi yang mempermainkan konsistensi
Namun di satu sisi,
ilusi yang menyenangkan
ilusi yang menawarkan imaji kebahagian
sebuah oase dari dahaga untuk episentrum euforia-ku
Tersadar saat kabut ilusi itu perlahan menipis menghilang
Kehadiranku tak sekalipun menggetarkanmu
begitupula kehadiranmu tak lagi menyalakan getaran api pesona
Jalinan percakapan kita tak sekalipun serasi
Ketika aku "orgasme" dengan alunan rock n roll, kamu menyukai film dan artis Korea
Ketika aku sibuk mengikuti alur tulisan Paulo Coelho atau getar sastrawan lainnya, kamu malah lebih berminat mengatur jadwal partime-mu
Kita bagai kutub yang berbeda
Kukira awalnya bisa menyenangkan saat aku berkenalan dengan hal-hal baru yang kamu sukai, begitu juga kamu sebaliknya.
Namun saat aku mencoba menyamakan frekuensi, kamu tetap setia di koridormu
Lelah aku dengan semuanya
Untuk apa dipaksakan?
Ketika ku mengadu pada Tuhan,
Worth it?
Aku bergetar...
Seperti kata para bijak, kebijakan yang benar selalu memberi jawaban pada waktu yang tepat
Ya kamu bukanlah Kamu!
Namun hadirmu kusyukuri (memang apapun yang terjadi patut disyukuri)
Selalu kupetik hikmah dan makna dibalik semua pertanda
belajar pada kebijaksanaan yang dibahasakan alam
menjadi tuan atas emosi
tetap sabar dan setia dalam konsistensi decisi
pertahankan dan perjuangkan suara dignitas
kedepankan rasio
tetep berserah pada-Nya
Godbless!
Ad Maiorem Dei Gloriam
Wednesday, September 29, 2010
Aku, Diriku, Kamu
Tak ada satupun kekuranganku yang Dia berikan
Namun diriku tak puas, diriku merasa kosong
Aku sudah cukup puas, namun akupun berontak muak dengan semua kekosongan ini
Diriku menginginkan Kamu
Sungguh inginnya diriku inginkan Kamu, sampai lepas semua akal sehatku
Bukan...bukan mereka yang aku dan diriku cari
mereka tidak ada hubungannya
aku dan diriku berhutang maaf dengan mereka
Aku tahu merasa ada yang salah
Apa mau diriku? Aku menentangnya.
Aku tidak mengingkan Kamu yang diinginkan diriku, tapi kamu yang aku inginkan
Sampai akhirnya kami sampai pada kata sepakat, Kamulah jawabnya!
Thursday, September 23, 2010
Apakah kamu itu Kamu?
Kemarin ku luncurkan sepenggal sabda doa kepada yang Esa di atas sana
Kupinta Kamu untuk hadir untuk disisiku
Tak mudah temukan Jawab-Nya
Hanya melalui iman, sambil menerka dan meraba seluruh bisikan yang dibahasakan alam
Namun, seluruh pencarian jawaban ini justru menempatkan aku pada sebuah pertanyaan baru di sudut benakku
Apakah kamu itu Kamu?
Tuesday, June 22, 2010
Kamu...
Ingin kudengar kamu mengucapkan itu padaku
Saat aku baru terjaga di pagi yang masih ranum
Saat sinar matahari masih centil menggoda hangat dari sekelibat di balik tirai kamarku
Ingin juga kudengar, saat nyeri dingin kesepian ini mulai dengan pelan-pelan menggerogoti sendi-sendi pertahanan hatiku
Ingin juga kuucap, saat aku merindukanmu. Saat aku menggigil, meracau, menyebut namamu sesukaku, dalam lelapku ataupun sadarku
Kamu...
adalah episentrum euforia-ku
Ya...
Hanya kamulah yang mampu membuat seluruh alam semestaku diliputi kebahagiaan
Tapi...
Siapakah kamu? Dimanakah Kamu?
Aku sih inginnya kamu yang menjadi Kamu
Bisakah kamu?
Friday, May 7, 2010
Monday, May 3, 2010
Seniman Kehidupan
Tuesday, March 9, 2010
Antara Jazz dan Rock N 'Roll
Antara Jazz dan Rock N’Roll
Antara orang suci dan pendosa
Antara cendikiawan dan narapidana
Antara free will dan status quo
Antara belati dan hati
Antara kamu dan aku
MEI 08
Notes:Bukan merupakan pengkotakan jenis musik
Love All Kind of Music Forever
Ad Maiorem Dei Gloriam
Bene Krisna
Monday, March 1, 2010
bene (is.me) : sebuah penyegaran kreasi ekspresi dan eksplorasi
Ga pernah otak gw merasa selancar ini. Inspirasi bertebaran dimana-mana. Luar biasa sekali rasanya, bisa memetik dan mengendarai inspirasi yang berkeliaran liar di kepala gw. DAMN! Ide-ide meluncur begitu aja. Saat ini ribuan, tidak jutaan elektron di otak gw sedang berkolaborasi membangun sebuah jaringan ruang kiri (logika) dan ruang kanan (perasaan)untuk membangun sebuah karya. Itu dia yang seringkali susah, seringkali si kiri enggan bekerja sama dengan si kanan. Si kiri yang beranggotakan logika dan rasio seringkali harus bertengkar dengan si kanan yang berawakan hati dan emosi, yang seharusnya mereka berteman akrab kayak sekarang ini. hahaha. Mengingat derasnya arus imajinasi ini, sayang jika gw harus melewatkannya, maka gw akan membuat sebuah posting yang meliputi semua genre gw mulai dari thinking out of the box, sastra dan cerita kehidupan dalam satu tulisan. Ini dia, enjoy!
Berawal dari kisah sabtu kelabu beberapa waktu lalu. Dimana sabdaku tidak menemukan jawabnya. Tidak masalah sebenarnya. Ada menang ada kalah. Dan tidak ada yang salah. Karena aku, dan dia memiliki sebuah hak prerogatif yang tidak bisa saling ganggu gugat.
Prerogative
Aku kamu dan hak prerogative kita untuk bertindak
Aku kamu dan hak prerogative kita untuk dapat memilih
Aku kamu dan mandat hati untuk berkehendak
Hak Tanya…
Hak Jawab…
Hak Diam…
Adalah keputusan…
Raga hanya merupakan mandat dari hati, dan sabda harus berhembus. Selama beberapa waktu aku pendam. Meskipun sesekali "plester-plester"-ku tak kuat menahan rembesan-rembesan emosi dan sisa-sisa ekspektasi. Walaupun aku sudah menguatkan diri bahwa tidak ada yang perlu disesali, percuma menyesal karena uda ga bisa kembali. Dan aku percaya Tuhan punya rencana lain, karena dia selalu membukakan jendela di ruangan pintu terkunci.
Peristiwa itu seperti pelatuk yang menembakkan emosi yang saat ini sedang membanjiri diri. Saat ini gw seperti Trance, tidak perlu Brainstorm untuk mengundang ide. Lalu gw juga memutuskan untuk mengganti judul dan tampilan blog gw menjadi bene(is.me) dengan tampilan dan semangat baru dalam kreasi ekpresi dan eksplorasi. Postingan ini juga menandai suatu perubahan baru ke arah yang lebih baik untuk halaman blog gw, supaya semakin berisi, semakin kritis, semakin absurd, semakin kocak, semakin menarik, renyah dibaca (emang wafer?) dan semoga bermanfaat untuk anda pembaca. enjoy! hahaha
Ad Maiorem Dei Gloriam
Bene Krisna

