Showing posts with label Ideologi inspiration and out of the box. Show all posts
Showing posts with label Ideologi inspiration and out of the box. Show all posts

Thursday, August 23, 2012

(ter)sadar

Hari ini saya menghabiskan waktu untuk teman-teman SMA saya, setelah semalam sebelumnya saya (seperti biasa) menghabiskan waktu untuk kegiatan kampus. Plus sedikit berantem sama Vivi karena gue yang bodoh ini (seperti biasa) melontarkan sejumlah kata-kata yang tidak pantas dan bertendensi menyepelekan.

Kamis, 23 Agustus 2012, genap 3 minggu setelah saya merayakan ulang tahun, rupanya saya masih jauh dari baik. Saya banyak belajar hari ini, atau lebih tepatnya tersadar.

Dimulai dari Rabu pagi 22 Agustus kemarin, gw dapet kabar dari temen kuliah gw, si Jawir, kalo nyokapnya Oe meninggal. Oe adalah teman SMA gw di Gonz yang juga kuliah di UMN. Jawir ngajak gw layat hari itu, tapi gw ga bisa, karena uda jnji layout. Hari berlalu, gw ngerjain layout sampe jam 5 sore, ke lippo nyari baterei laptop tapi tokonya belum buka, lanjut rapat acara OMB UMN 2012. Malam berakhir dgn perdebatan dengan Vivi, karena sebuah Inkonsistenan dan ketidaktegasan gw, soal boleh tidaknya dia pergi ngelayat nyokapnya Oe. Takutnya krik..krik...krik... dll

Malam berlalu, pagi2nya ternyata Vivi masih belum dapat memaafkan saya, padahal saya telah melunak setelah semalam berpikir, "Ya udah si Kris, gada salahnya, toh emang uda lama kan lw emang pengen kenalin ke anak2 juga." Vivi bergeming.

Terus gw ke rumah Gad, seorang teman gw pas SMA. Setelah 1 jam perjalanan (itu pun uda plus nyasar dikit, padahal rumah Oe di Bekasi gw di pamulang) berkat lebaran, jalanan Jakarta masih sepi, sampelah gw d rumah Oe.

Oe yang notabene dlu ya, we know-lah, yang byk yang kesel juga karena satu dan lain hal ternyata, teman2 gw banyak yg dateng layat (walaupun kemarin). Sebandel-bandelnya Oe, anak-anak masih menerima dia, dan atas nama solidaritas anak Gonz, mereka berbondong-bondong ngelayat nyokap Oe. biar gimana pun juga Oe masih keluarga Gonz. Btw RIP ya tante :)


Stlh itu lnjut pergi ke PIM. Jujur saja sudah hitungan bulan atau tahun malah, saya tidak pernah secara khusus main sama teman SMA saya, kecuali beberapa waktu lalu gw smpet ketemu secara tak sengaja dengan beberapa teman di beberapa tempat. Saya keterlaluan.


Namun rupanya, tidak ada sedikit pun rasa kesal mereka kepada saya yang telah "meninggalkan" mereka begitu lama.

Saya  merasa sangat ga enak, tapi semua ternyata tidak seperti. Kami masih bahagia, kami masih tertawa. Bahkan setelah sekian lama saya tak bertemu mereka pun, saya masih merasa baru kemarin bertemu mereka. Tidak ada sekat. Kami berbicara dari hati ke hati. Saya merasa nyaman disana.

Dan kemudian saya (TER)SADAR : mereka adalah keluarga saya (yang telah sempat saya tinggalkan secara bodohnya) dan saya sadar sekali saya harus berubah.
 
Saya yang egois, yang bodoh, yang terlalu ambisius, yang terlalu takut akan kegagalan karena terlalu banyak bermain, saya dengan idealisme saya adalah sukses adalah kerja keras setiap hari, saya yang takut dimarahi orang tua saya karena terlalu banyak pergi karena pasti (mau tidak mau) akan mengeluarkan uang, saya yang melihat krisis keuangan ekonomi dunia membuat penghasilan orangtua saya yang tidak terlalu baik, saya yang merasa tidak berguna karena di usia yang sudah segini gedenya gw msh blm bisa berkontribusi ekonomi kepada keluarga malah menjadi penyodot pundi-pundi, membawa saya menjadi pribadi yang ga pandai jaga hubungan baik sama orang karena keegoisan saya seringkali tidak hadir saat mereka berkumpul, menjadi orang yang gila kerja, mengejar kesuksesan, mengejar sejumlah target dan ambisi pribadi, saya yang bahkan lupa bagaimana cara bersenang-senang, saya yang sempat merasa hanya berbahagia bila saya menang! saya dapat yang saya inginkan, membuat saya seringkali enggan untuk pergi keluar. Yah ga seekstrem itu sih, dalam arti jumlah frekuensi gw nolak pergi itu lebih tinggi, ketimbang gw putuskan untuk jalan, gw masih jalan kok sama anak2 tapi jauh d lubuk hati gw, itu yang ada.

Kemudian saya merenung lebih dalam, rupanya saya juga punya sejumlah keluarga lain yang juga dengan sudah sempet saya tinggalkan:

1. Keluarga UMN: keluarga ilkom A, keluarga jurnalistik, keluarga kost-an icost (flores, domi, nico tua, nanda, babe, luddy, jody haryo, felix jody, ucok, dll) keluarga KBM (evan, roswell, ady, adit, oca, arda, dll) ultimagz, HMJ. Saya jahat karena tidak lagi punya waktu untuk diluangkan bersama mereka. Belakangan saya coba memperbaikinya dgn berbagai kegiatan sosial bersama mereka. Raff, Jawir, Toro, Alvin, Bo, Gebi, Kokom, Ilkom A, KBM, dan yang lain-lain.

2.Keluarga Mater Dei. Hampir setiap sabtu seperti halnya anak Gonz, mereka ajak gw main futsal, bahkan mereka mulai sms sejak beberapa bulan lalu, dan tak pernah sekalipun saya datang. *sempet sih gw pengen dateng, eh malah mereka batal -__- tetapi tetap saja SAYA JAHAT! Selain itu ada gang ngumpul gereja bareng, teman2 masa kecil gw, manyu, dion, nayeem, toni, anak-anak pancingcong, F4 (nando, tinus, surya, gw) dan msh byk lagi.

dan yang terpenting, hari ini saya kehilangan teman sehati saya yang telah dengan secara bodohnya membuat dia marah dengan saya : Anastasia Arvirianty.Maafkan saya ya vivi :)

*untuk saya (ter)sadar untuk harus selalu menjaga hati orang lain
**untuk saya untuk harus semakin mencintai kelurga saya sendiri, dan sejumlah "keluarga" yang saya punya.





Sunday, July 15, 2012

Menyoal Hakekat Belajar dan Pendidikan



            Dalam buku Sang Nabi karya Kahlil Gibran, dikisahkan seorang cendikiawan bijaksana pintar, laksana lentera pengetahuan, Almustafa namanya, hendak beranjak pergi meninggalkan kota yang didiaminya selama dua belas tahun belakangan. Begitu kaya ia dengan sabda kebijaksanaan, sehingga membuat masyarakat menuntut wejangan darinya sebelum kepergiannya. Usai memberikan wejangan dari beberapa pertanyaan, seorang guru menyelinap maju di tengah kerumunan orang dan bertanya, “Bagaimanakah seluk-beluk memberi pengajaran?” Ia pun menjawab, “Tak seorang pun dapat menanamkan pelajaran kecuali yang mulai terjaga di fajar subur pengetahuan. Bila ia bijaksana, sesungguhnya tiadalah ia memintamu memasuki gudang perbendaharaan kebijaksanaan itu, tapi akan menuntunmu ke depan pintu gerbang penalaran.”
            Kisah itu berakhir. Tapi punya makna mendalam disana. Secara implisit terdapat sebuah ajaran penting yang ingin disampaikan Kahlil Gibran melalui “alter ego”-nya yang bernama Almustafa.
Ajaran itu adalah bahwa kesadaran manusia untuk belajar adalah kunci keberhasilan manusia mendalami ilmu. Pernah lihat orang malas belajar lalu tidak berhasil sekolahnya? Di Indonesia kasus ini sangat biasa terjadi, baik di bangku sekolah dasar sampai bangku pendidikan tinggi. Mengapa bisa terjadi demikian? Karena orang tersebut tidak mempunyai kesadaran untuk mau belajar. Tidak memiliki kesadaran untuk belajar membuat mereka sulit mendalami ilmu. Apa yang membuat mereka demikian? Mereka miskin motivasi. Belajar adalah soal nilai kuantitatif di atas kertas yang dijadikan dasar pemahaman berperan sebagai pemenuhan tuntutan formalitas hidup era modern, itu anggapan mereka. Jika mereka tidak memperoleh angka yang dijadikan standar kelulusan, maka mereka boleh dibilang, “gagal belajar”. Buntutnya panjang, alhasil para peserta ajar ini menghalalkan segala cara untuk dapatkan nilai diatas standar itu. Mereka yang nilainya berada di atas standar, dianggap pintar atau “sukses belajar”. Proses belajar telah dibakukan dalam sistem kaku yang tak lagi mengedepankan kreatifitas otak untuk berdaya, yang mendewakan nilai dengan standar kelulusan. Belajar seakan-akan menjadi hal yang sia-sia. Belajar untuk peroleh nilai bukan ilmu. Bahkan jika mereka mendapatkan nilai yang bagus, bukan berarti pemahaman akan ilmu mereka bagus kan? Salah total sudah pemahaman akan proses belajar itu. Itu yang membuat mereka tidak semangat belajar, yang berujung pada tidak adanya kesadaran untuk belajar yang berbuntut pada sulitnya mendalami ilmu.
Sebenarnya belajar adalah sebuah cara seseorang mencapai penalaran. Ilmu ada buah dari pengetahuan yang terus uji secara sistematis, logis dan berdasar dari penalaran. Belajar adalah kegiatan mendapatkan pengetahuan, menimba ilmu, lalu menggunakan ilmu itu sesuai kebijaksanaan untuk menjalani hidup.  Itulah esensi dari belajar.
Lalu bagaimana dengan pendidikan? Apa esensi dari pendidikan?
“Intisari dari pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, pengangkatan manusia ke taraf insani,” demikian petikan yang penulis ambil dari Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Secara lebih jelas, Ki Hajar Dewantara menyebutkan bahwa pendidikan adalah proses humanisasi (human = manusia, plus imbuhan isasi = proses, membuat jadi. Proses membuat jadi manusia). Jadi menurut pria yang bernama kecil Suwardi Suryaningrat ini, manusia pada awalnya terlahir sama. Nol. Kecil, lemah, hanya bergantung dari orang lain disekitarnya (orang tua, guru, dll). Namun dengan mereka memperoleh pendidikan, mereka menjadi tahu dan mengerti bagaimana bertindak dan menjalani hidup dimana segala tindakan mereka diambil berdasar akal dan hati nurani. Melalui pendidikan itulah kedua hal tersebut bisa berfungsi dengan lebih sempurna. Proses itulah yang membuat manusia menjadi lebih “manusia”.
Pada zamannya, untuk mempermudah pemahaman orang soal yang dimaksud pendidikan, Ki Hajar meringkasnya sebagai cara manusia keluar dari kebodohan. Bagi bangsa yang baru keluar dari belenggu kolonialisme dan imperialise yang berusaha menancapkan kaki di tanah sendiri ini, pendidikan adalah solusi. Coba tengok, melalui enyaman pendidikan, lahir para intelektual yang kelak menjadi bapak-bapak membentuk fondasi bangsa. Kehidupan menjadi membaik. Meminjam istilah dari dunia sosiologi, pendidikan adalah ekskalasi sosial, cara manusia untuk meningkatkan taraf hidupnya.
Luar biasa sekali bukan pesan dari Almustafa dan Ki Hajar Dewantara? Adalah tugas dan pekerjaan dari seluruh pihak yang mengatasnamakan penyelenggara untuk berefleksi, mengevaluasi diri, apakah sudah mengerti dan menghayati hakekat belajar dan pendidikan? Dengan terlaksananya penyelenggaran pendidikan yang sesuai dengan hakekatnya, besar kemungkinan kesejahteraan dan kemampuan ilmu masyarakat kita lebih maju.

*Pernah diterbitkan di Majalah 9 edisi Mei 2012. Thanks to Viriya Paramita or Jawir buat kesempatan dan barter tulisannya untuk masing2 majalah kita. He-he-he :D

Wednesday, June 13, 2012

Quo Vadis Reformasi?


“Revolusi! Revolusi! Revolusi sampai mati!”
“Revolusi! Revolusi! Revolusi harga mati!”

            Empat belas tahun sudah gugatan itu mengumandang di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI). Buah kristalisasi ekspresi yang lama terbungkam, membuncah menjadi sebuah tuntutan, seakan menjadi kredo bagi oleh kumpulan kesatuan mahasiswa, organisasi masyarakat, juga masyarakat sendiri yang berunjuk rasa saat itu.
            Adalah Soeharto sebagai nahkoda dari pemerintahan orde baru, yang dianggap oleh para demonstran sudah tidak layak lagi berada di kursi pemerintah. “Musuh kita jelas, satu, Soeharto,” ungkap Budiman Sudjatmiko salah seorang aktivis yang ikut gerakan ini. Budiman memosisikan diri sebagai oposisi Soeharto dengan mendirikan Partai Rakyat Demokratik yang membuat dia sempat bernaung di bui selama tiga setengah tahun.
            Sementara itu Senayan terus digoyang aksi masa. Serangkaian demonstrasi dan gugatan tak jemu mereka serukan. Hasilnya kesatuan aksi yang mayoritas adalah mahasiswa itu berhasil menurunkan pemerintah yang mereka anggap sudah tidak layak lagi berada di tampuk kepemimpinan.
            “Saya memutuskan berhenti dari jabatan saya sebagai presiden RI terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini,” ujar Soeharto di Istana Merdeka, 21 Mei 1998. Ribuan masa bersorak gembira, akhirnya usaha mereka berhasil. Implikasinya jelas :  Orde baru jatuh, Soeharto lengser, Indonesia masuk periode baru.
             Para elit politik saat itu kemudian bergegas, menyiapkan sejumlah format pemerintahan yang baru, dimana mereka menjanjikan perubahan bagi negara. Kemudian “Gerakan 98” sukses membidani sebuah format negara baru yang disebut reformasi. Berasal dari sebuah kata yaitu ‘formasi’ yang artinya barisan dan ditambah imbuhan ‘re’ yang artinya kembali, maka reformasi secara etimologis berarti penyusunan kembali formasi. Maka secara sederhana, definisi reformasi adalah penyusunan kembali format dan perangkat-perangkat kenegaraan dalam usaha membuat kehidupan bernegara yang lebih baik. Reformasi memiliki sejumlah agenda perubahaan mulai dari pemerintahan yang bersih dari Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN), peningkatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat, kebebasan berpendapat dan berekspresi, sampai reformasi birokrasi seperti melarang oknum militer dan kepolisian dari kursi pemerintahan. Masuklah Indonesia pada pemerintahan yang baru.
            Waktu berlalu, rezim berganti, mulai dari Habibie, Abdurachman Wahid atau yang lebih akrab dipanggil Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka semua memimpin di era pasca reformasi. Hasilnya? Habibie, teknokrat pewaris tahta Soeharto, belum sempat berbuat banyak karena gelombang politik memintanya untuk segera turun. Gus Dur naik menggantikannya. Kiai cum negarawan ini, sukses menegakan pluralisme di Indonesia. Di era ini pula Budiman diberikan remisi dan pemulihan semua hak politiknya. Namun belum genap ia tunaikan masa jabatannya, kembali gelombang politik sukses menjatuhkan presiden dari kursinya. Masyarakat kemudian merindukan sosok pemimpin yang komplit dengan visi misi untuk negara, seperti yang ditemui dari sosok Soekarno, presiden pertama yang juga pendiri Republik Indonesia. Maka naiklah sang putri, Megawati Soekarnoputri sebagai obat kerinduan masyarakat akan mendiang ayahnya. Mengantongi sejumlah harapan masyarakat, Mega diharapkan tangkas seperti ayahnya kala berkuasa. Namun rupanya, ekspektasi itu hanya fatamorgana semata. Mega jauh dari pencapaian ayahnya. Kemudian naiklah sang Menkopolhukam (Menteri Politik, Hukum dan Keamanan) dari era Mega, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden hingga saat ini. Era dimana demokrasi digaungkan menjadi landasan negara.

Empat Belas Kemudian

            Empat belas tahun sudah Reformasi berjalan. Rupanya keadaan tak banyak berubah. Mungkin yang paling nyata hanya kebebasan berekspresi dan berpendapat saja yang benar-benar dijaga tegak payung hukumnya. Selain itu sama saja. Pemerintahan tetap saja kotor. Ekonomi tumbuh namun tetap tak kuat menahan krisis keuangan dunia. Yang meresahkan tentu saja aksi anarkis sejumlah organisasi masyarakat (ormas) yang main hakim sendiri dan merasa paling benar di jalannya.
            Di saat yang sama, sejumlah tokoh gerakan 98 sudah duduk nyaman di kursi parlemen. Sebut saja Rama Pratama dan Budiman Sudjatmiko. Rama pernah mengenyam bangku DPR dengan menjadi kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada periode 2004-2009. Sedangkan Budiman, sosok yang seringkali dijadikan personifikasi gerakan 98 ini sekarang menjabat sebagai Komisi Dua Dewan Perwakilan Rakyat.
Namun rupanya kuasa mereka di parlemen menjadi fenomena anomali dengan gerakan mereka kala muda. Mereka yang dahulu mengkritik pemerintah, rupanya juga “tunduk” pada godaan kekuasaan. Rama Pratama bahkan tersangkut kasus korupsi. Sedangkan Budiman, dinilai oleh banyak pengamat politik tidak lagi segarang dulu ketika masih tutun di jalanan.
“Butuh waktu untuk menyelesaikan semua agenda reformasi,” ujar Budiman ketika ditanya soal mengapa empat belas tahun usai reformasi keadaan tak kunjung membaik.
“Kini semua pihak mengerubungi, tak jelas lagi mana lawan mana kawan. Zaman dulu, jelas musuh kita cuma satu, Soeharto,” ujarnya Budiman.

Budiman Sudjatmiko

Anomali Aktivis

            Fenomena yang dialami Budiman dan Rama Pratama kontradiksi dengan apa yang mereka kerjakan ketika masih menjadi aktivisi di lapangan. Ada kecenderungan bahwa aktivis yang dulu mengkritisi pemerintah menjadi gelap mata ketika sudah berada di kisaran kekuasaan.
Namun sejarah mencatat satu nama yang selalu dikenang sebagai “kiblat” para aktivis mahasiswa di Indonesia. Bukunya selalu menjadi rujukan ketika mereka butuh energi ekstra untuk mengkritisi sejumlah pihak yang mereka anggap tak adil. Seorang yang seringkali dijadikan personifikasi aktivis mahasiswa angkatan 1966. Dia adalah Soe Hok Gie.
Gie, panggilan akrabnya, adalah seorang aktivis mahasiswa yang sangat vocal pada zamannya. Tak pernah gentar ia lontarkan kritik pada penguasa saat itu, Soekarno. Bersama teman-temannya, ia turun ke jalan untuk mengkritisi pemerintah yang mereka anggap kacau saat itu. “Soekarno tak ubahnya raja-raja Jawa. Ia feodal dan punya banyak istri. Para pengacau seperti itu pantas ditembak mati di lapangan banteng,” ujar Gie dalam catatan hariannya.
Seperti halnya Budiman tiga puluh dua tahun kemudian, Gie berhasil menjatuhkan rezim yang berkuasa saat itu. Teman-temannya pun mendaki karier di parlemen, Gie memilih setia pada jalurnya sebagai “watchdog” pemerintahan. Setali tiga uang dengan parlemen yang mereka jatuhkan, rupanya teman-teman Gie pun tak kalah korup dan buruknya.
Nampaknya memang ada kecenderungan seseorang  untuk menjadi gelap mata dengan kekuasaan, padahal dahulunya mereka adalah aktivis yang menyerukan kebusukan pemerintah. Namun Gie berbeda. Dia adalah anomaly dari sekian banyak aktivis mahasiswa yang ada. Sayang (atau mungkin beruntung) dia mati muda. Dia belum sempat berbuat lebih banyak lagi untuk Indonesia. Mungkinkah ada sosok Gie yang baru? Yang kritis menyuarakan perubahan? Yang tetap setia meski dikepung sedapnya dunia kekuasaan? Yang tetap setia mengawal perubahan (baca : reformasi) sehingga benar-benar paripurna agendanya? Kita tunggu saja.

Monday, April 25, 2011

Risalah (Menuju) Idealis

"Setiap harinya saya (semakin) dihadapkan dengan realita yg jauh dr konsep ideal. Pertanyaannya: saya yg menyimpang atau masyarakat yg mnyimpang? Hmm..." -Bene Krisna-
"Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik yang saya tidak mengubah keadaan. Jadi sebenarnya apa yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya sungguh merasa kesepian" Soe Hok Gie - Catatan Seorang Demonstran

Aneh adalah ketika anda menaruh perspektif anda di luar sebuah hegemoni yang telah terkonfirmasi menjadi kewajaran.

What wrong in being different anyway?

Monday, March 21, 2011

Mengakali Realita dengan idealita (dan sebaliknya)


Mulai dari semester 4, gw berjumpa dengan seorang teman yang bernama Steven. Steven ini orangnya unik. Dia adalah seorang koleris murni. Dia akan melawan semua orang yang bertentangan di jalannya. Yang lucu adalah gw sangat berlawanan dengan konsep pemahamannya tentang hidup. Gw dengan konsep gw tentang hidup luhur, bahwa uang itu perlu namun bukan segala-galanya sementara Steven hidup tuh realistis aja coy! Kuliah tuh ga penting, yang penting cari kerja, uang, nikah, punya anak, punya rumah. Namun lucunya sekarang kita berteman baik. Dia tetap berada di jalannya, gw pun demikian. Kita saling menghargai hidup kami satu sama lain. Mungkin karena dia membutuhkan gw yang rajin untuk menaikkan IP-nya, tapi entahlah gw rasa dia bukan tipe manusia yg suka memanfaatkan teman. Buktinya dia setia dan ga MT, saat minta tolong nitip absen karena hujan, namun pas hujan selesai dia tetap datang ke kampus. Logikanya klo dia ud titip absen ke gw, cabut pun gpp dong? Dia ga melakukan demikian.

Kembali gw problema utama, hanya saja, di dalam hati gw merenung. Wartawan : impian gw, cita-cita gw, tidak menawarkan hidup jalur bunga. Gaji yang di tawarkan tidaklah besar. Memang sudah lama gw menanamkan dalam hati, uang itu perlu tapi bukan segala-galanya, tapi tetap saja gw takut akan ketidakpastian masa depan. Bagaimana dengan istri dan anak-anak gw nantinya? Gw mulai sedikit banyak terpengaruh Steven. Dia hampir tiap hari mengatakan, “Percuma kuliah. Bob Sadino aja bilang ‘untung saya ga kuliah, jadi bego dan kebanyakan mikir kayak kalian’.” Ibaratnya idealis gw mulai tergoyahkan dengan tawaran realistis.

Gw saat itu masih semangat sama ide gw, sampe akhirnya gw tenggelam dalam kesibukkan gw dalam HMJ dan KBM. Gw sibuk dan sangat sibuk. Ketika menjelang tidur gw selalu menyempatkan diri untuk berdialog dengan diri gw sendiri, “Krisna apakah lw uda berada di jalan yang benar? Liat deh sibuk lw tuh ga ngaruh sama masa depan lw (ga ada hubungannya dengan kewartawanan, dan ga ngehasilin uang (ya iyalah gw kerja sosial). Uda gitu lw tuh Cuma di tai2in anak2 kampus yg bilang lw ‘sekumpulan anak sok kritis yang pengen eksis”.

The big question is, am I have gone in a wrong way?

Ga semudah itu nyerah. Gw mencari jawabannya. Kebetulan gw sedang mencanangkan suatu program bernama #SabtuBerkualitas (bisa dibaca post sebelumnya) dengan berkunjung ke Salihara untuk mengikuti kuliah filsafat tentang keluhuran : sukses menurut filsafat Plato. Dari situ gw belajar, hidup yang lurus dan luhur. Namun yg trjadi adalah malah makin banyak pertanyaan dalam kepala gw. Wartawan, uang, dan realita. Hidup itu perlu uang man! Menurut arĂȘte (filsafat keluhuran) sukses adalah ketika hidup manusia luhur.

Sampe akhirnya Sabtu kemarin gw beli DVD film 3 idiots. Film ini tuh sadis kerennya. Film ini sarat nilai-nilai dan kritik sosial dalam masyarakat. Khususnya di dunia pendidikan. Yang menariknya adalah segala kritik tersebut disampaikan melalui bahasa semiotika yang ditampilkan baik secara verbal maupun non-verbal.

“If we chase glory and money, it comes temporary. But if we chase excellent, thus money and glory will come along to.” Artinya jika kita belajar dengan motivasi mencari uang dan pekerjaan, hal tersebut tidak akan ada habisnya. Tapi bila yang dicari adalah ilmu pengetahuan, maka uang dan kekayaan akan datang dengan sendirinya. Jangan terlalu terpaku pada system, namun fokuslah kepada bagaimana membuat mahasiswa mempunyai hasrat untuk belajar. Seperti yang di sampaikan oleh film ini, pendidikan itu memberikan ilmu pengetahuan untuk mahasiswanya, bukan pembekalan untuk dapat menjadi bibit unggul yang bersaing dalam dunia kerja.

Dari film ini gw seperti menemukan jawaban atas kegalauan gw. Takut bahwa idealism gw ini Cuma omong kosong belaka. Bahwa idealism gw hanya seperti serigala tanpa taring, atau domba berbulu serigala.

Film ini memberi gw inspirasi, jawaban yang membuat gw kembali bersemangat dan bergairah kembali, setelah untuk sementara gw dirundung ketidakpastian kaki dalam langkahnya. Tidak terlalu berlebihan, jika film ini sedikit banyak mempengaruhi jalan hidup gw.

Gw akan menjadi manusia yang mengakali realita dengan idealita. Panggilan gw adalah menjadi wartawan, seorang public speaker, dosen, cendikiawan, dan Maecenas. Namun gw ga menutup mata, hidup itu perlu uang, dan memiliki uang sebelum lulus kuliah merupakan salah satu cita-cita gw. Maka gw harus pandai mengakali realita sambil tetap konsisten di jalur idealita gw. Wartawan adalah panggilan hidup, dan gw sadar, gaji gw nantinya ga seberapa. Maka gw harus mengakalinya dengan tidak bersandarkan hidup dari situ, namun dari usaha, atau kerja dobel (jadi dosen misalnya kayak si kukum Ignas Haryanto, dosen yang paling gw segani dan hormati, panutan gw) Gw ga bodoh untuk keras kepala dengan idealism sempit macam itu. Tapi memang idealism gw seperti itu. Kebutuhan rohani (panggilan profesi) terpenuhi namun juga kebutuhan materi terpenuhi. Impian gw ingin memiliki komunitas atau sanggar kebudayaan Salihara. Sebuah komunitas kebudayaan yang nirlaba, dimana menjadi tempat berkumpul para aktivis, pandai cendikia, para seniman dan budayawan. Bukankah itu proyek idealis? Konsep atau ide saya adalah mengakali kenyataan dengan idelitas, atau sebaliknya?

Gw ga mau munafik, tapi memang itu panggilan jiwa (baca : idealism atau cita-cita) gw ingin menjawab panggilan gw (melakukan profesi yang gw senangi. Do what you love an love what you do!) dengan menjadi wartawan, dosen, seniman –Rockstar, penyair, budayawan- dan Maecenas. Sambil ingin memperoleh keadaan duniawi dari menjadi seorang enterprenuer.(Dalam waktu dekat gw mau coba bisnis kaos di kampus gw) Memiliki rumah yg asyik (berseni), menyekolahkan anak2 dan mghidupi istri dll. Idealisme gw adalah gw ga mau kalah oleh kenyataan. Gw harus gigih mendapatkan cita-cita gw. Gw mau jadi wartawan, tapi gw mau gw makmur. Bukan berarti wartawan itu selalu kere, namun gw ingin lebih aja. Lagipula kredit kesejahteraan yang kecil juga rentan mengusik independensi wartawan dengan salam tempel dan suap2 menyuap. Lagi-lagi langkah-langkah ini mengerucut pada tujuan2 idealis.

Unique? So pasti! Godbless! :D

Ad Maiorem Dei Gloriam

Bene Krisna

Mengakali Realita dengan idealita (dan sebaliknya)


Mulai dari semester 4, gw berjumpa dengan seorang teman yang bernama Steven. Steven ini orangnya unik. Dia adalah seorang koleris murni. Dia akan melawan semua orang yang bertentangan di jalannya. Yang lucu adalah gw sangat berlawanan dengan konsep pemahamannya tentang hidup. Gw dengan konsep gw tentang hidup luhur, bahwa uang itu perlu namun bukan segala-galanya sementara Steven hidup tuh realistis aja coy! Kuliah tuh ga penting, yang penting cari kerja, uang, nikah, punya anak, punya rumah. Namun lucunya sekarang kita berteman baik. Dia tetap berada di jalannya, gw pun demikian. Kita saling menghargai hidup kami satu sama lain. Mungkin karena dia membutuhkan gw yang rajin untuk menaikkan IP-nya, tapi entahlah gw rasa dia bukan tipe manusia yg suka memanfaatkan teman. Buktinya dia setia dan ga MT, saat minta tolong nitip absen karena hujan, namun pas hujan selesai dia tetap datang ke kampus. Logikanya klo dia ud titip absen ke gw, cabut pun gpp dong? Dia ga melakukan demikian.

Kembali gw problema utama, hanya saja, di dalam hati gw merenung. Wartawan : impian gw, cita-cita gw, tidak menawarkan hidup jalur bunga. Gaji yang di tawarkan tidaklah besar. Memang sudah lama gw menanamkan dalam hati, uang itu perlu tapi bukan segala-galanya, tapi tetap saja gw takut akan ketidakpastian masa depan. Bagaimana dengan istri dan anak-anak gw nantinya? Gw mulai sedikit banyak terpengaruh Steven. Dia hampir tiap hari mengatakan, “Percuma kuliah. Bob Sadino aja bilang ‘untung saya ga kuliah, jadi bego dan kebanyakan mikir kayak kalian’.” Ibaratnya idealis gw mulai tergoyahkan dengan tawaran realistis.

Gw saat itu masih semangat sama ide gw, sampe akhirnya gw tenggelam dalam kesibukkan gw dalam HMJ dan KBM. Gw sibuk dan sangat sibuk. Ketika menjelang tidur gw selalu menyempatkan diri untuk berdialog dengan diri gw sendiri, “Krisna apakah lw uda berada di jalan yang benar? Liat deh sibuk lw tuh ga ngaruh sama masa depan lw (ga ada hubungannya dengan kewartawanan, dan ga ngehasilin uang (ya iyalah gw kerja sosial). Uda gitu lw tuh Cuma di tai2in anak2 kampus yg bilang lw ‘sekumpulan anak sok kritis yang pengen eksis”.

The big question is, am I have gone in a wrong way?

Ga semudah itu nyerah. Gw mencari jawabannya. Kebetulan gw sedang mencanangkan suatu program bernama #SabtuBerkualitas (bisa dibaca post sebelumnya) dengan berkunjung ke Salihara untuk mengikuti kuliah filsafat tentang keluhuran : sukses menurut filsafat Plato. Dari situ gw belajar, hidup yang lurus dan luhur. Namun yg trjadi adalah malah makin banyak pertanyaan dalam kepala gw. Wartawan, uang, dan realita. Hidup itu perlu uang man! Menurut arĂȘte (filsafat keluhuran) sukses adalah ketika hidup manusia luhur.

Sampe akhirnya Sabtu kemarin gw beli DVD film 3 idiots. Film ini tuh sadis kerennya. Film ini sarat nilai-nilai dan kritik sosial dalam masyarakat. Khususnya di dunia pendidikan. Yang menariknya adalah segala kritik tersebut disampaikan melalui bahasa semiotika yang ditampilkan baik secara verbal maupun non-verbal.

“If we chase glory and money, it comes temporary. But if we chase excellent, thus money and glory will come along to.” Artinya jika kita belajar dengan motivasi mencari uang dan pekerjaan, hal tersebut tidak akan ada habisnya. Tapi bila yang dicari adalah ilmu pengetahuan, maka uang dan kekayaan akan datang dengan sendirinya. Jangan terlalu terpaku pada system, namun fokuslah kepada bagaimana membuat mahasiswa mempunyai hasrat untuk belajar. Seperti yang di sampaikan oleh film ini, pendidikan itu memberikan ilmu pengetahuan untuk mahasiswanya, bukan pembekalan untuk dapat menjadi bibit unggul yang bersaing dalam dunia kerja.

Dari film ini gw seperti menemukan jawaban atas kegalauan gw. Takut bahwa idealism gw ini Cuma omong kosong belaka. Bahwa idealism gw hanya seperti serigala tanpa taring, atau domba berbulu serigala.

Film ini memberi gw inspirasi, jawaban yang membuat gw kembali bersemangat dan bergairah kembali, setelah untuk sementara gw dirundung ketidakpastian kaki dalam langkahnya. Tidak terlalu berlebihan, jika film ini sedikit banyak mempengaruhi jalan hidup gw.

Gw akan menjadi manusia yang mengakali realita dengan idealita. Panggilan gw adalah menjadi wartawan, seorang public speaker, dosen, cendikiawan, dan Maecenas. Namun gw ga menutup mata, hidup itu perlu uang, dan memiliki uang sebelum lulus kuliah merupakan salah satu cita-cita gw. Maka gw harus pandai mengakali realita sambil tetap konsisten di jalur idealita gw. Wartawan adalah panggilan hidup, dan gw sadar, gaji gw nantinya ga seberapa. Maka gw harus mengakalinya dengan tidak bersandarkan hidup dari situ, namun dari usaha, atau kerja dobel (jadi dosen misalnya kayak si kukum Ignas Haryanto, dosen yang paling gw segani dan hormati, panutan gw) Gw ga bodoh untuk keras kepala dengan idealism sempit macam itu. Tapi memang idealism gw seperti itu. Kebutuhan rohani (panggilan profesi) terpenuhi namun juga kebutuhan materi terpenuhi. Impian gw ingin memiliki komunitas atau sanggar kebudayaan Salihara. Sebuah komunitas kebudayaan yang nirlaba, dimana menjadi tempat berkumpul para aktivis, pandai cendikia, para seniman dan budayawan. Bukankah itu proyek idealis? Konsep atau ide saya adalah mengakali kenyataan dengan idelitas, atau sebaliknya?

Gw ga mau munafik, tapi memang itu panggilan jiwa (baca : idealism atau cita-cita) gw ingin menjawab panggilan gw (melakukan profesi yang gw senangi. Do what you love an love what you do!) dengan menjadi wartawan, dosen, seniman –Rockstar, penyair, budayawan- dan Maecenas. Sambil ingin memperoleh keadaan duniawi dari menjadi seorang enterprenuer.(Dalam waktu dekat gw mau coba bisnis kaos di kampus gw) Memiliki rumah yg asyik (berseni), menyekolahkan anak2 dan mghidupi istri dll. Idealisme gw adalah gw ga mau kalah oleh kenyataan. Gw harus gigih mendapatkan cita-cita gw. Gw mau jadi wartawan, tapi gw mau gw makmur. Bukan berarti wartawan itu selalu kere, namun gw ingin lebih aja. Lagipula kredit kesejahteraan yang kecil juga rentan mengusik independensi wartawan dengan salam tempel dan suap2 menyuap. Lagi-lagi langkah-langkah ini mengerucut pada tujuan2 idealis.

Unique? So pasti! Godbless! :D

Ad Maiorem Dei Gloriam

Bene Krisna

Sunday, March 13, 2011

Program itu bernama #SabtuBerkualitas

Halo semua apa kabar? Sudah lama ga ngepost nih gw. Hehe

Sebagai jomblo malam minggu menawarkan godaan galau dan bĂȘte yang sangat kuat bagi penderita galaumania. Gw jomblo bukan karena ga laku, tapi karena gw terlalu idealis bahkan dalam hal memilih pacar yang probably pasangan hidup. Ada si nona ini sih, dia sukses memenuhi hampir semua criteria gw. I think we booth fit one and filling in one another. I hope she’s the one :D

Eniwei, Berangkat dari stagnansi di malam minggu yang ga jauh2 dari mengerjakan kewajiban rumah, maen PES, gitar2an, tidur, mentok-mentok kalo jalan ke mall (which is keluarin duit lagi. Hadeehh -___-*) Sangat tidak berkualitas bukan? insiatif pun tercetus dengan mengadakan acara yang meningkatkan kualitas malam minggu. Tercetuslah acara #sabtuBerkualitas, dimana gw dengan rutinnya setiap Sabtu, pergi mengunjungi tempat2 yg asyik, unik, beda dari yang lain dan tentunya berkualitas seperti tempat2 kebudayaan, aktivis, toko buku, dll.

Gw ga mau kayak anak muda kebanyakan, yang saban malam minggu cabut ke Mall. Oke mall itu perlu ketika kita emang butuh barang yg dcari dan dibeli, tapi ga usah jadi sebuah habitual. Kalo lw ud punya penghasilan sendiri terserah deh, tapi mall itu tak segan-segan menawarkan suatu pola hidup konsumtif nan hedonis, kasian bonyok lw palakin mulu saban sabtu. Masih banyak tempat seru dan unik di luar sana, dimana lw bisa spent time dengan menyenangkan dan berkualitas tanpa keluarin banyak uang. Bisa mendapat pengalaman baru yang tidak orang lain rasakan bahkan pikirkan. Berani berbeda dan memberontak atas kemampanan, itulah semangat anak muda! Selamat ber- #SabtuBerkualitas! Cheerss!!! :D

#SabtuBerkualitas di minggu pertama gw, yaitu 26 Februari 2011. Waktu itu gw berangkat dengan segerombol teman “Ring satu” gw capcus ke Kompas Gramedia BookFair. Buku-buku yang dijual disini murah gila!!! Ga nanggung-nanggung tuh buku disunat ampe 90%. Temen gw sih Felix Jody nemu buku Tjipta Lesmana tentang Gaya Komunikasi Politik Presiden dari Soekarno mpe SBY yg aslinya 100rb dia dapet 20ribu doang! Sampe detik ini dia gw tawarin untuk gw beli balik bukunya ga mau, bangke! haha Bahkan ada komik dan buku yang dijual seharga Rp.2000 aja! Masyauloh Haleluya! Di rak bagian 2rb smape 20 rb, orang-orang sampe desak-desakkan, sikut-sikutan untuk berebut buku. Buku-buku sampe jatuh dari raknya, berserakkan di lantai. Ckckck… kalap bener yak nih orang2. Eniwei it’s a nice experience to be there! :D

#SabtuBerkualitas minggu kedua, 5 Maret 2011 gw cabut ke sanggar kebudayaan Salihara untuk ikut kuliah umum tentang Filsafat keluhuran: Arete oleh Plato yang dibawakan oleh Pujangga, jurnalis dan musafir kehidupan Goenawan Mohamad (idola gw nih!) dan ahli filsafat nomor wahid di Indonesia Franz Magnis Suseno . Lagi2 dengan temen “Ring satu”, kita capcus untuk menikmati malam minggu berkualitas. Kami semua awam dengan filsafat tapi tidak alergi dengannya. Kami punya minat dan ketertarikkan dengan filsafat, namun apa daya, tak punya dasar materi yang kuat tentang filsafat, jatuhlah kita dalam labirin pikiran. Hanya kalimat dengan logika common sense biasa yang dapat kami serap. Namun saya tidak merasa pulang dengan tangan hampa, saya mengerti esensi filsafat keluhuran itu, dan membawa saya ke sebuah pertanyaan baru. Namun yang lebih menyenangkan lagi, akhirnya saya dapat berfoto dengan idola saya di dunia jurnalistik Goenawan Mohamad. I was so damn happy! :D Gw pengen sepintar dia, sebijak dia, sehebat dia, inspirasi saya!


Berfoto dengan Goenawan Mohamad

#SabtuBerkualitas minggu ketiga yaitu hari ini 12 maret 2011. Tadi sore gw cabut ke kineforum bwt nonton film. Kineforum itu terletak di kompleks Taman Ismail Marzuki. Kineforum ini lagi merayakan bulan film nasional dan memutarkan film-film local yang berkualitas! Kali ini saya berangkat dengan sobat-sobat gw dari ilkom A, lumayan sekalian reuni kecil, kangen jalan sama mereka. Hehe :D Kita akhirnya nonton “Ira Maya Putri Cinderella”, film jadul 80an. Well, we laugh all about the movie, because we use our modern perspective to judge the movie. Such as, bad a very simple act, ridiculous dress, blur pixel, et cetera. Tapi menyenangkan sekali, secara gw baru sekali kesana, jadi nambah pengalaman juga. Hehehe :D

Minggu depan kemana dan ngapain ya enaknya? Hahaha

Bene Krisna

Ad Maiorem Dei Gloriam