Showing posts with label Lomba Blog Tempo.co dan Politicawave Jakarta di Mata Blogger. Show all posts
Showing posts with label Lomba Blog Tempo.co dan Politicawave Jakarta di Mata Blogger. Show all posts

Thursday, September 27, 2012

Menabur Tulisan, Menyemai Blackberry



                Pepatah mengatakan “Taburlah maka akan kau tuai”. Petani bekerja menabur bibit, menuai padi. Kalo gue menabur tulisan, semaian gue Blackberry! Bukan buah beri item, tapi Blackberry (BB) sebuah brand smart phone  yang lagi booming lima tahun terakhir. Kok bisa? Gimana caranya?
                Pada tanggal 15 September kemarin gue diberkati dengan hadiah sebuah Blackberry, usai dinyatakan sebagai salah satu juara di lomba penulisan blog “Jakarta di Mata Blogger” yang dilaksanakan Tempo.co dan Politicawave. Sebuah impian dan pencapaian tersendiri buat gw.
                Jadi gini ceritanya, waktu itu gw masih liburan semester bulan Juli kemarin. Gw lupa tanggal berapa pastinya, yang jelas waktu itu hari Minggu. Gw ke gereja bareng kakak gw di Paroki Stefanus di Cilandak TB Simatupang. Sebenarnya paroki gw adalah di Paroki Barnabas, Pamulang, tapi gw dan keluarga suka pindah-pindah gereja karena kurang klop sama kotbah dan durasi romo di Pamulang. Walaupun begitu, gw selalu merasa at home di Pamulang. Di paroki inilah gw dua puluh satu tahun menjadi jemaat, hidup, bergaul dengan teman-teman gw yang katolik juga. Hati gw akan selalu di Pamulang *Tsaaah… hahaha.
                Oke back to the story, singkatnya setelah pulang gereja, gw dan kakak gw hendak pulang, kita lewat Cirende. Di tengah jalan kami berhenti sejenak di Seven-Eleven, karena udara panas walaupun sudah terkurangi oleh AC mobil masih menggerogoti keringat dan dahaga kita. Disana kakak gw beli minuman rasa sarsaparilla, sambil menunggu gw tunggu di kasir. Disana gw melihat ada Koran Tempo, gw iseng-iseng buka-buka, naluri jurnalistik biasa, gw kepo nih, apa sih yang dijadi HL dan berita apa aja nih yang masuk di Koran Tempo. Ga lama kemudian mas-mas penjaga kasir berkata, “Ambil aja mas gratis kok.” Weh? Iya apa gratis? Gw pun membalik koran, dan ternyata memang tertera tulisan gratis disitu. Usut punya usut ternyata UI sedang mengabarkan pengumuman kelulusan SIMAK (seleksi masuk) UI untuk mahasiswa baru, dengan bekerja sama dengan Tempo untuk membantu mengabarkan nama-nama yang lolos.  Ga lama, kakak gw selesai bayar di kasir, dan kami kembali ke mobil untuk pulang, dan gw sukses membawa Koran Tempo gratis itu. Lumayan pikir gue. Hehe. Tapi ternyata kedepannya takdir mengatakan bahwa lebih dari sekedar lumayan.
                Sampai rumah gw ganti baju segala macem, langsung menyambar Koran Tempo itu, dan mulai membacanya sambil leha-leha. Berita A gw lewatin, berita B lewat, SIMAK UI apalagi, orang gw uda kuliah! Hahaha. Tidak ada yang menarik disitu, berita-beritanya kurang lebih sama kek Kompas, yang gw baca tadi pagi (which is gw langganan tiap hari). Sampai akhirnya tiba-tiba mata gw terpana pada sebuah iklan pengumuman lomba.

Iklan Pengumuman Lomba Blog "Jakarta di Mata Blogger"



                Ya iklan pengumaman lomba inilah yang menarik gw. “Wah bisa nih gue ikut,” batin gue. Lumayan juga kan gw lagi nganggur nungguin kabar beasiswa, magang dan sidang proposal skripsi gw. At least gw bisa lakukan atau berjuang untuk sesuatu yang berguna.
                Gw mau cerita dikit nih, jadi yang mengadakan lomba ini adalah Politicawave bekerja sama dengan Tempo.co. Politicawave adalah (bisa disebut) sebagai LSM yang tugasnya mengawasi arus lalu lintas percakapan soal pilkada DKI di dunia maya. Dan lomba ini diadakan untuk menyambut, memeriahkan pilkada DKI sambil memperkenalkan keberadaan Politicawave.
                Singkat cerita, gw langsung memutar otak, gw mau nulis apa ya? Pokoknya yang harus out of the box, yang beda, yang kreatif, yang berkualitas, sehingga gw tampil beda, unik, menarik, dan menyisihkan yang lain dalam lomba. Seluruh berita pilkada gw serap, gw dalami. Stasiun TV, media cetak, sampai online, semua soal pilkada DKI gw pantengin, supaya gw bisa dapat inspirasi untuk menulis.
                Tiba-tiba saja gw teringat akan lagu tentang Jakarta yang dinyanyikan oleh seniman legendaris kelahiran tanah Betawi, lagu Kompor Meledug oleh Benyamin Sueb. Lagu itu berpesan soal kritik soal atas kesemerawutan masalah di Jakarta, kebanjiranlah segala macem. Nah, lagu itu dinyanyikan ulang oleh sejumlah grup band indie jaman sekarang. Lagu Benyamin itu digarap tahun 1972 (thanks to vivi yang uda menanyakan ini ke Mas Denie Sakrie sehingga data gw valid. Hehe) dan pada jaman sekarang dinyanyikan ulang oleh anak muda jaman sekarang, dan ternyata masalah kritik sosial yang ada pada lagu itu masih relevan dengan kondisi Jakarta saat ini. 40 tahun men! Jakarta “tidak” berubah! Gw langsung ngerasa ini ide bagus nih, langsung aja gw garap. Dan jadilah judulnya, “Dari Benyamin Sampai Sekarang.”
                Melihat banyaknya tulisan yang masuk, dan banyak juga yang mengirim berulang-ulang, mendorong gw untuk mengirim karya gw lagi. Kali ini berjudul “Mencari Bang Ali Jilid Dua”. Ide dasarnya adalah karena usai membaca sub tema penilan yang berkata soal keadaan Jakarta dan gubernur yang diinginkan.
                Gw sempat rada nyantai tuh, karena ngerasa uda ngerilis dua tulisan yang menurut gw kompetitif-lah, sampai akhirnya temen gue, penerus gue, Gloria Fransisca a.k.a Tita ikutan lomba ini karena naksir hadiah lomba yang ditawarkan, mengingat laptop lamanya hancur karena terserang musibah banjir dan kerubuhan atap kosannya. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap peserta lain, gw merasa tulisannya Tita itu boleh juga, maka terdoronglah gw membuat satu tulisan lagi judulnya, “Jakarta Kota Sejuta Asa”. Di tulisan ini gw lebih mengeksplor diksi dan konsonan, sambil mengedepankan isi soal Jakarta yang lebih baik.
                Ngerasa kayaknya uda gada lagi ide cihuy yang bisa ditulis, gw pun harap-harap cemas nyantai-nyantai menunggu hasil lomba. Tanggal yang ditentukan pun telah tiba, nah ternyata tiba-tiba lomba diperpanjang hingga September. Gw sempet bĂȘte tuh, wah curang, enak banget yang pada baru kumpulin karya, bisa nyontek yang uda ngumpulin sebelumnya, jadi mereka bisa nyolong ide dan bikin yang lebih baik. Gw sempet….. Ya udahlah, kalo emang tulisan gw bagus mah, mau tambah berapa puluh tulisan lagi ga akan ngaruh, gw akan tetap menang. Gitu pikir gw dalam hati.
                Lalu kemarin Jumat tanggal 14 September, seperti biasa, rutinitas gw tiap kali online, buka fb, twitter, email lalu blog. Gw terperangah kegirangan dapat email yg mengatakan gw menang lomba “Jakarta di Mata Blogger”. Gw kaget, ga nyangka, dan seneng banget, karena gw lupa tanggal pengumuman  yang baru, jadi gw buka email ya sekedar buka aja gitu, ngecek ada apa. Eh taunya ada kabar gembira kek gitu. Email berikutnya, gw diberitahukan bahwa gw menang dapat BB Davis Curve. AMIN! Gw akhirnya mendapatkan itu. Banyak teman-teman yg menyarankan gw untuk menggunakan BB karena nanti akan banyak berguna buat informasi dan kontak dengan teman-teman jurnalis di dunia kerja. Tapi gw ga mau merepotkan dan manja minta dibelikan orang tua, gw uda bertekad, entah gimana caranya pokoknya gw punya BB dari hasil jerih payah gw sendiri. Nah tertebuslah sudah, mungkin Tuhan mendengarkan dan alam raya semesta bekerja sama membantu gw, nah sampailah BB ini ke tangan gw.
                Untuk bisa mendapatkanya, gw harus ikut seremoninya sambil ada acara yang diselenggarakan oleh CLUB SPEAK (Suara Pemuda Anti Korupsi) di bawah binaan TII (Transparency International Indonesia) di FX Plaza. Hari itu emang istimewa, karena setelah gw dapat BB itu gw langsung pergi ke kawinan kakaknya Vivi. Komplit sudah hari itu. Senang juga karena menjadi salah satu denyut laju konstelasi politik ibukota. Semoga ke depannya gw akan mencapai target2 dan misi2 gw, terdekat skripsi dan magang. Amin. Siip!

Foto bersama pemenang yang lain




Nyokap Bokap sampe bela-belain dateng ngeliat serah terima hadiah gue

Oh iya, tulisan gw yang berhasil menang judulnya, "Dari Benyamin Sampai Sekarang". Kalau mau baca tinggal klik aja langsung di tulisan. Selamat membaca! Tiada maksud sombong atau pamer, malah semoga tulisan dan kisah gw bisa menginspirasi pembaca sekalian untuk berprestasi. Salam deadline! :D

Monday, July 30, 2012

Jakarta, Kota Sejuta Asa


Waktu itu saya sedang bercakap-cakap dengan teman soal Jakarta. Usai asyik membahas soal pilgub, dia menyuruh saya melakukan sesuatu, “Coba deskripsikan Jakarta dengan satu kalimat!”

Lalu saya menjawab, “Jakarta, kota sejuta asa.”

Bayangkan kurang lebih sepuluh juta manusia bergulat di dalamnya. Bahkan sebelum matahari genap mengudara di angkasa, mereka bangun pagi sekali setiap harinya, bukan karena tidak bisa tidur atau hobi begadang, namun karena harus segera bersiap membanting tulang untuk menabur asa menyemai rezeki. Kota yang tidak pernah tidur bahkan saat malam berganti hari. Semua demi asa tentang kehidupan yang lebih baik.

Mulai dari pedagang gedongan sampai asongan, karyawan sampai buruh pabrik, sopir pribadi sampai sopir angkot, anak jalanan sampai anak sekolahan, musisi ibukota sampai musisi bus kota, pegawai bank sampai penagih hutang, perantau sampai pribumi, aparat keamanan sampai preman, juragan sampai majikan. Semua bersama-sama bergumul mencari penghidupan di Jakarta. Semua demi sebuah asa tentang kehidupan yang lebih baik.

Namun sayangnya kota ini begitu kejam. Kota ini bukan tempat yang ramah untuk menyemai asa sepuluh juta manusia Jakarta itu. Macet, banjir, kriminalitas tinggi, akses pendidikan dan kesehatan yang sulit terjangkau semua silih berganti berusaha mematikan asa di hati. Dengan segala penuh sesak masalahnya, Jakarta sukses menempati peringkat ketujuh dari sepuluh kota paling dibenci di dunia menurut survey yang dilakukan media di Amerika, CNN. (sumber: http://www.tempo.co/read/news/2012/06/12/199410144/10-Kota-Paling-Dibenci-Jakarta-Nomor-Tujuh) Menurut CNN, Jakarta sama halnya dengan buah durian, berbau menyengat dan butuh ''perjuangan'' untuk menikmatinya.
.
Pemimpin yang Bisa Wujudkan Asa jadi Nyata

Menurut hasil penghitungan KPU atas pilgub putaran pertama, 11 Juli lalu, terpilih dua kandidat dengan perolehan suara terbanyak yaitu Jokowi-Ahok dan Foke-Nara untuk kembali bertarung di pilgub putaran kedua  (Sumber : http://pilkada.tempo.co/konten-berita/pilkada_dki/2012/07/20/418207/Calon-Gubernur-Jakarta-Putaran-II-Ditetapkan)

Ini saatnya perubahan. Mari memilih calon pemimpin yang bisa mengenyahkan masalah dan mampu  menggiring asa masyarakat menjadi nyata.

Punya visi misi, tegas, jujur, berintegritas, cinta dan mengerti pada rakyat. Pemimpin yang Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani . Sebuah ciri pemimpin yang sudah lama hilang di Indonesia. Adakah salah satu dari mereka yang memenuhi kriteria itu?  Bagaimana pendapat masyarakat Jakarta?

Menurut Politicawave, sebuah lembaga yang meriset opini masyarakat di dunia maya soal pilkada, Foke-Nara punya indeks persepsi yang kurang bagus di mata masyarakat, dibandingkan dengan Jokowi-Ahok.

Grafik Persepsi dan Citra Cagub di dunia Maya. (Sumber : www.politicawave.com)

Namun memilih gubernur bukan soal citra positif. Pilih yang paling mampu menahkodai Jakarta keluar dari segala problematikanya.


Perubahan di Jakarta bukan tidak mungkin, menilik Jakarta sudah mengantongi salah satu syarat yang diperlukan: asa untuk jadi lebih baik. Semua itu tinggal digenapi dengan hadirnya pemimpin yang mampu bekerja secara nyata mewujudkannya. Menjadikan Jakarta tak lagi durian, tapi permata Asia Tenggara dan dunia.

Friday, July 20, 2012

Mencari Bang Ali Jilid Kedua

"Menurut Lu, siapa gubernur terbaik yang pernah di miliki Jakarta?"

"Bang Ali sih yang paling oke," jawab saya cepat tanpa ragu dan berpikir panjang.

Siapa itu Bang Ali? Apa Saja yang Sudah ia Lakukan untuk Jakarta?

Ali Sadikin, atau biasa dipanggil Bang Ali, seringkali disebut sebagai gubernur terbaik yang pernah dimiliki Jakarta karena ketegasannya, visi dan misinya, serta sejumlah peninggalan dari masanya yang masih berfungsi hingga sekarang. Gubernur yang menjabat tahun 1966-1977 ini menggagas pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, Taman Ismail Marzuki, Taman Impian Jaya Ancol, Pekan Raya Jakarta, Gelanggang Mahasiswa, Gelanggang Remaja, Pusat Perfilman Usmar Ismail. Minatnya untuk melestarikan budaya dan sejarah ia tunjukan dengan mendirikan sejumlah museum antara lain Museum Fatahillah, Museum Tekstil, Museum Keramik, Museum Wayang serta mengembalikan fungsi gedung-gedung bersejarah, seperti Gedung Juang 1945 dan Gedung Sumpah Pemuda.

Ia punya visi dan misi yang besar untuk pembangunan dan menyejahterakan rakyat Jakarta. Namun saat itu, dana APBD Jakarta tidak sebesar mimpinya. Alih-alih terjepit keadaan, malah ia membuat sebuah terobosan  yang pintar namun juga mengundang pertentangan di sisi lain. Ia melegalkan perjudian, membuka tempat hiburan dan melegalisasi pelacuran. Sontak hal itu membuat berang alim ulama yang menentang pembangunan dengan uang haram. Beliau bergeming. Nyatanya, uang itu benar-benar digunakan untuk pengaspalan jalan, membangun sekolah dan rumah sakit. Ia kemudian berkata, “Coba tengok jalan-jalan di dekat rumah Pak Haji sekalian, kalau tak setuju nggak usah lewat jalan haram itu! Biar saya yang tanggung dosanya!”

Siapa Pemimpin Empat Puluh Tahun Kemudian?

Empat puluh tahun berselang, Jakarta sedang menjalankan Pilkada. Jujur, saya merindukan sosok seperti Bang Ali untuk menukangi Ibukota yang sudah sesak dengan masalah ini. Rupanya saya tidak sendirian merindukannya. Menurut survey yang dilakukan LSI (Lingkaran Survei Indonesia) diambil kesimpulan bahwa mayoritas warga merindukan sosok Bang Ali (sumber  : http://www.tempo.co/read/news/2012/05/27/228406468/Warga-Jakarta-Masih-Rindu-Sosok-Ali-Sadikin)

Seperti yang diberitakan http://pilkada.tempo.co/konten-berita/pilkada_dki/2012/07/20/418207/Calon-Gubernur-Jakarta-Putaran-II-Ditetapkan, penghitungan oleh KPU menempatkan Jokowi-Ahok melawan Foke-Nara di putaran kedua pilgub DKI.

Saya akui masing-masing, cagub baik Jokowi maupun Foke, punya kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Bang Ali pun bukan malaikat. Semasa dia menjabat pun ada sejumlah masalah yang belum terselesaikan hingga kini, banjir misalnya. Namun yang perlu dicatat, adakah dari dua cagub kita ini yang punya visi misi serta keberanian seperti Bang Ali?

Menurut Politicawave, sebuah lembaga yang yang memantau "aktivitas" kampanye dan opini masyarakat di dunia maya, Foke-Nara punya indeks persepsi yang kurang bagus di mata masyarakat, dibandingkan dengan Jokowi-Ahok.

Grafik Persepsi dan Citra Cagub di dunia Maya. (Sumber : www.politicawave.com)


Dengan adanya politicawave, segala vox populi dunia maya jadi bisa terpantau. Siapa yang paling disukai dan yang tidak. Namun memilih gubernur bukan soal citra positif. Pilih yang paling mampu menahkodai Jakarta keluar dari segala problematika dan membawa Jakarta menjadi kota yang aman dan nyaman.

Wednesday, July 18, 2012

Dari Benyamin Sampai Sekarang

 
 "Jakarta kebanjiran / di Bogor angin ngamuk / rumah ane kebanjiran / gare-gare got mampet."

Itulah sepenggal lirik lagu Kompor Meleduk yang dipopulerkan oleh Benyamin Sueb pada tahun 1972. Sebuah lagu kritik sosial soal keadaan Jakarta yang selalu jadi langganan banjir, sebuah kondisi riil Jakarta kala itu. Seniman Betawi ini berseloroh dalam lagunya bahwa penyebab banjir di Jakarta adalah limpahan air hujan dari Bogor yang tak mampu ditampung saluran air di Jakarta karena tersumbat.
Empat puluh tahun kemudian rupanya kondisi serupa masih akrab ditemui warga Jakarta saat ini. Saluran air tersumbat akibat sampah menumpuk yang menghalangi aliran air, yang berujung pada banjir. Rupanya dalam waktu segitu lama keadaan di Jakarta tidak berubah. Diibaratkan dengan perjalanan hidup manusia, maka pada usia empat puluh tahun adalah dari ia lahir, lulus sekolah, bekerja, menikah sampai mempunyai anak sekitar usia SD atau SMP.
Selama rentang waktu itu pula Jakarta dipimpin oleh tujuh gubernur mulai dari Ali Sadikin sampai Fauzi Bowo. Kenyataanya, mereka gagal mengatasi masalah yang dikumandangkan Benyamin empat puluh tahun silam. Kalau kata orang Betawi bilang, "Ngapain aja lu sampe nih semua kagak pernah kelar?"
Seorang warga membersihkan sisa genangan air dari Luapan air Kali Krukut di Kampung Pulo, Jalan Bango, Kelurahan Pondok Labu, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (2/11). TEMPO/Aditia Noviansyah  
(Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2012/07/04/083414873/Hujan-Sebentar-Pondok-Labu-Banjir-Lagi)

Tidak cuma soal banjir, sejumlah masalah klasik Jakarta seperti kemacetan lalu lintas, tingkat kriminalitas yang tinggi, akses kesehatan dan pendidikan yang belum menjangkau semua kalangan, tata kota yang semwrawut, masih mewarnai Ibukota Indonesia ini.

Potret Kemacetan Ibukota  
(Foto oleh : TEMPO/Eko Siswono Toyudho. Sumber : http://pilkada.tempo.co/konten-berita/pilkada_dki_program_janji/2012/07/03/414610/Jurus-Jokowi-Atasi-Macet)

Jakarta Mencari Pemimpin
Ibukota saat ini tengah melaksanakan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Jakarta butuh pemimpin yang punya visi misi, dan menjalankannya dengan integritas, kejujuran, ketegasan namun tetap santun dan merakyat. Pemimpin yang melayani, bukan ingin dilayani. Pemimpin yang mampu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani yang artinya di depan, pemimpin memberi teladan atau contoh tindakan yang baik, di tengah atau di antara masyarakat menciptakan prakarsa dan ide, dari belakang memberikan dorongan dan arahan. Sebuah ciri pemimpin yang sudah lama hilang di Indonesia. Adakah salah satu dari mereka yang memenuhi kriteria itu?

Sumber : www.politicawave.com



Berbagai usaha dilakukan calon gubernur agar masyarakat mau memilih mereka. Berkembangnya teknologi internet, menempatkan sosial media sebagai instrumen baru dalam kampanye. Adalah Politicawave, sebuah lembaga yang memantau "aktivitas" kampanye dan opini masyarakat di dunia maya. Lembaga ini rutin merilis grafis dan dinamika tingkat elektabilitas masing-masing pasangan cagub-cawagub

Berbagai infografis berdasarkan pantauan dan riset dari Politicawave, sebuah lembaga yang memantau aktivitas kampanye dan opini masyarakat di dunia maya.



Mari ikut memilih, ambil suara dalam perubahan. Supaya tiada lagi keluhan, "Jakarta kebanjiran!" seperti yang dengungkan Benyamin empat puluh tahun silam. Menyongsong Jakarta yang lebih baik.