Showing posts with label Sastra-absurd. Show all posts
Showing posts with label Sastra-absurd. Show all posts

Wednesday, June 12, 2013

Mahkota

Aku pulang kembali dengan eluan
Bicara mereka padaku, bangga mereka padaku
Benar dan pantaskah, tertuju mereka padaku?

Tengok ke belakang, dan angguk kepalaku
Ya, aku pernah ciptakan ini!

Namun, kemarin kenapa aku hilang?
Seperti bukan aku yang mereka elukan

Bagai minum hingga mabuk, padahal perut masih lapar



Malam hari menjelang selesainya acara itu
22 Mei 2013

Thursday, August 4, 2011

Definisi

Ketika suatu sirkumstansi tak lagi jernih, ambivalensi menyeruak dan menyerebak ke seluruh jajaran pengetahuan, maka adalah suatu kebutuhan yang urgensi untuk membuat suatu definisi. Definitio, sebuah kata serapan dari bahasa Latin yang artinya batas. Suatu pagar untuk melingkupi ide agar tidak melenceng. Uniknya, kata ini menjulang ke permukaan bukan melulu untuk menunaikan tugasnya membuat suatu pengertian, tapi juga merupakan penegasan atas suatu ketidaktahuan atas suatu situasi. Tentu saja hal ini merupakan jawaban atas urgensitas sirkumstansi ini. Namun yang dirasa ada di balik definisi itu, sudah tidak perlu diragukan lagi. Dirasa pula kedua individu telah mengangguk setuju walau tanpa yuridis definisi itu. Kebutuhan urgensi atas definisi itu diperlukan untuk menunaikan ketidakpastian yang pasti dirasa jalinan antar individu tersebut. Tinggal tugas individu tersebut melontarkan sabda, maka definisi akan sirkumstansi itu akan tercipta.

Friday, April 29, 2011

Hasitasi

Bukan percik pesona keelokkan yang kautawarkan padaku. Bukan pula dengan artifak yang melekat di seputarmu seperti yang biasa orang, mereka tawarkan. Tidak, bukan itu semua. Tapi kamu berhasil menyentuh relung-relung core yang berbaris rapi dalam deretan sepi.

Wujudmu adalah kesediaannya menangkap semua stimuliku yang berbeda dari kebanyakan. Yang unik cenderung aneh. Kesediaan yang telah lama hilang yang berhasil diketemukan.

Sekelebat nampak di depan kecenderungan arah kesana. Tersungging kecil senyum berkembang di ujung bibir.

Namun masih ada sepenggal hasitasi. Tentu saja karena sebagaian arbitrasi belum terlengkapi. Opsi berputaran saling mengambil alih satu sama lain membentuk konsiderasi mencari konsklusi untuk pemenuhan decisi.

Monday, March 21, 2011

Noktah, Tatal, Mozaik Menuju Utuh


Tak ubahnya sepotong surga, begitulah inderaku menangkapmu

Seketika sangkakala mengumandang menggelora, pesonamu datang menyentuhku

Mungkin saat ini, aku tak ubahnya noktah di tengah kepungan garis-garis arus besar

Namun ingat garis pun berasal dari noktah yang tumbuh dan berkembang. Aku akan mencoba keluar, menyeruak, membuat guratan sampai akhirnya tatal tercacar. Hingga akan mudah kau jumpai, seperti pesonamu menggetarkan romaku yang senantiasa hadir dengan jari-jemarinya yang manis.

Layaknya tatal tercacar, begitu pula kepingan mozaik-mozaik yang tersebar. Kan kususun milikmu sambil menawarkan kembali mozaikku yang terbaik untuk juga kau susun. Berharap, kita berjumpa di tengah, mengisi kepingan mozaik yang terbelah. Merapat, menyatu, menjadi Utuh.


Ad Maiorem Dei Gloriam

Bene Krisna

Saturday, October 9, 2010

Anugerah di balik Ilusi

Kehadiranmu kembali hanya sebuah ilusi
Ilusi yang mengaburkan konsentrasi
Ilusi yang mempermainkan konsistensi

Namun di satu sisi,
ilusi yang menyenangkan
ilusi yang menawarkan imaji kebahagian
sebuah oase dari dahaga untuk episentrum euforia-ku

Tersadar saat kabut ilusi itu perlahan menipis menghilang

Kehadiranku tak sekalipun menggetarkanmu
begitupula kehadiranmu tak lagi menyalakan getaran api pesona
Jalinan percakapan kita tak sekalipun serasi
Ketika aku "orgasme" dengan alunan rock n roll, kamu menyukai film dan artis Korea
Ketika aku sibuk mengikuti alur tulisan Paulo Coelho atau getar sastrawan lainnya, kamu malah lebih berminat mengatur jadwal partime-mu
Kita bagai kutub yang berbeda
Kukira awalnya bisa menyenangkan saat aku berkenalan dengan hal-hal baru yang kamu sukai, begitu juga kamu sebaliknya.
Namun saat aku mencoba menyamakan frekuensi, kamu tetap setia di koridormu

Lelah aku dengan semuanya
Untuk apa dipaksakan?

Ketika ku mengadu pada Tuhan,
Worth it?
Aku bergetar...

Seperti kata para bijak, kebijakan yang benar selalu memberi jawaban pada waktu yang tepat
Ya kamu bukanlah Kamu!


Namun hadirmu kusyukuri (memang apapun yang terjadi patut disyukuri)
Selalu kupetik hikmah dan makna dibalik semua pertanda
belajar pada kebijaksanaan yang dibahasakan alam

menjadi tuan atas emosi
tetap sabar dan setia dalam konsistensi decisi

pertahankan dan perjuangkan suara dignitas
kedepankan rasio
tetep berserah pada-Nya

Godbless!
Ad Maiorem Dei Gloriam

Monday, October 4, 2010

Imaji aku dan kamu

alam bawah sadarku memamerkan padaku sebuah imaji
ada aku dan kamu disitu
semoga imaji ini tidak menguap ditelan perih
namun semoga imaji ini segera bersahabat menjadi sebuah reali

tidak ada hal lain saat ini yang lebih kuinginkan daripada kamu
May God bless us!

Wednesday, September 29, 2010

Aku, Diriku, Kamu

Sudah sepatutnya aku panjatkan syahdu syukurku pada Tuhan
Tak ada satupun kekuranganku yang Dia berikan
Namun diriku tak puas, diriku merasa kosong
Aku sudah cukup puas, namun akupun berontak muak dengan semua kekosongan ini
Diriku menginginkan Kamu
Sungguh inginnya diriku inginkan Kamu, sampai lepas semua akal sehatku
Bukan...bukan mereka yang aku dan diriku cari
mereka tidak ada hubungannya
aku dan diriku berhutang maaf dengan mereka
Aku tahu merasa ada yang salah
Apa mau diriku? Aku menentangnya.
Aku tidak mengingkan Kamu yang diinginkan diriku, tapi kamu yang aku inginkan
Sampai akhirnya kami sampai pada kata sepakat, Kamulah jawabnya!

Thursday, September 23, 2010

Apakah kamu itu Kamu?

Kemarin ku luncurkan sepenggal sabda doa kepada yang Esa di atas sana

Kupinta Kamu untuk hadir untuk disisiku

Tak mudah temukan Jawab-Nya

Hanya melalui iman, sambil menerka dan meraba seluruh bisikan yang dibahasakan alam

Namun, seluruh pencarian jawaban ini justru menempatkan aku pada sebuah pertanyaan baru di sudut benakku

Apakah kamu itu Kamu?

Tuesday, June 22, 2010

Kamu...

Kamu...
Ingin kudengar kamu mengucapkan itu padaku
Saat aku baru terjaga di pagi yang masih ranum
Saat sinar matahari masih centil menggoda hangat dari sekelibat di balik tirai kamarku

Ingin juga kudengar, saat nyeri dingin kesepian ini mulai dengan pelan-pelan menggerogoti sendi-sendi pertahanan hatiku

Ingin juga kuucap, saat aku merindukanmu. Saat aku menggigil, meracau, menyebut namamu sesukaku, dalam lelapku ataupun sadarku

Kamu...
adalah episentrum euforia-ku

Ya...
Hanya kamulah yang mampu membuat seluruh alam semestaku diliputi kebahagiaan

Tapi...
Siapakah kamu? Dimanakah Kamu?
Aku sih inginnya kamu yang menjadi Kamu
Bisakah kamu?

Monday, May 3, 2010

23.15

saat ini pukul 23.15 waktu laptop saya

Sunday, April 18, 2010

surat untuk kamu yang ketiga

Uda ah CAPEK!!!

Capek tau ga sih?!! hidup dengan 2 konflik batin selama ini!!!
Aku ga nyalahin kamu. Semua itu salahku!!!
Uda tau dari awal itu salah, masih aja aku jalanin.

Dan aku (walaupun berduka) cukup bersyukur, kamu menipis sabdaku

Aku tuh uda cukup get-over sama kamu...
sampai kamu...dan pagi yang manis itu...sepenggal pesan pendekmu di malam hari...
dan aku...bodoh!!! aku dan sikap keras kepalaku...

entahlah mungkin kamu bingung...mungkin suatu saat akan ada waktu bagiku untuk menjelaskan semuanya. Saat dimana kita akan berbicara dari hati ke hati

Pesan terakhir:

Yang ingin aku sampaikan adalah aku tak pernah menyesal kamu telah mampir di hidupku dan menjadi bagian dari sepotong kisah di hidupku. Segala rekaman tentang kamu akan aku simpan rapi di memoriku. Kamu adalah sepotong scene indah di memori otakku, dan aku bukan editor yang yang mau membuang scene itu. Kamu adalah sepotong realitas yang mampir dalam hidupku, yang memberi warna cinta di hati. Namun sayangnya scene indah itu tidak bisa kita rangkum menjadi satu kesatuan di dalam bingkai layar kaca kehidupan. Scene indah itu hanya akan tersimpan rapin di arsip otakku. Dan mungkin aku akan bersiap membuat scene indah lainnya.

dan

MAAF bila ada kesalahan...

dan kuharap kita tetap berteman (tanpa ekspektasi lebih lanjut)

Friday, April 9, 2010

Surat untuk kamu yang kedua

Kepada kamu...


Malam itu aku dan 6 senar merahku, bersabda dan berseru sambil berharap suatu hari ketika kau terbangun kamu akan merindukanku. Lalu malampun berlalu bersama harapan kosong dari duetku dengan si 6 senar merah. Paginya aku pun melaju di rutinitas biasa. Sampai akhirnya aku terkejut menemukan namamu di kotak masukku.

Dan kita terduduk berdua... ya hanya berdua. Persis sama ketika, ku berucapkan sabda. Kau hadir dengan senyuman manis itu. Senyuman yang sama saat otakku berdenyut, mencoba mengingat kembali peristiwa itu. Lalu berhamburlah percakapan itu. Hanya sebuah pertukaran kalimat biasa antar individu. sepele. namun aku menikmatinya. Sungguh...aku berharap perjalanan kita masih panjang, dan aku kamu terperangkap dalam percakapan yang panjang. Aku mendengar dengan baik setiap kata yang terlontar dari mulut dan bibir manismu yang penuh itu.

Selepas apa yang terjadi antara kita di pagi yang manis itu, aku kembali ditemani 6 senar merahku bersyair apa yang sedang kurasakan saat itu. Lalu aku tak menyangka kau mengirimkanku pesan pendek...Aku berharap banyak tapi ternyata. hanya itu saja. Mungkin salahku yang......

Di suratku yang pertama aku ingin mengajakmu berbicara, dan nampaknya saat ini kamu butuh teman untuk berbicara. I'm willing to care and listen if you want to. aku peduli kalo kamu tuh bawel suka, suka ngatur, ga mau ngalah, gengsian. Bodo amat ga peduli. ga peduli juga kamu nelpon tengah malam pun kalo kamu butuh aku bakal bangun. walaupun bukan karena!


PS: I'm willing to care and listen if you want to...
need reply

Monday, April 5, 2010

aku, kamu, kita

akuwwwwwwwkamuwwwwwwwwwkamuwwwwwwwkamuwwwwaku
wwwakuwwkamuwwwwwwwwwwwakuwwwwwwwwwwkamuwwaku
wwakuwwwwkamuwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwkamuwwwwaku
wwwakuwwwwkamuwwwwwwwwwwwwwwwwwwwkamuwwwwaku
wwwwakuwwwwkamuwwwwwwwwwwwwwwwwwwkamuwwwwaku
wwwwwakuwwwwkamuwwwwwwwwwwwwwwwwkamuwwwwaku
wwwwwwakuwwwwkamuwwwwwwwwwwwwwwkamuwwwwaku
wwwwwwwakuwwwwkamuwwwwwwwwwwwwkamuwwwwaku
wwwwwwwwakuwwwwkamuwwwwwww w kamuww waku
wwwwwwwwwakuwwwwkamuwwwwww w kamuww aku
wwwwwwwwwwakuwwwwkamuwwwww kamuwww aku

aaaaaaaaaaaaaaaKITA...

Sunday, March 14, 2010

Surat untuk kamu...

Kepada Yang tercinta Kamu...

Hai apa kabar? sepertinya kita telah lama tak berjumpa. Yah, fisik kita memang berdekatan, tapi pernahkah kita berbicara lagi dari hati ke hati seperti saat itu? keran komunikasi memang sudah terbuka, tapi kebanyakan kita berbicara bahasa terka, bahasa ambigu, yang menuntut berbagai persepsi untuk mencari maksud sebenarnya.

Sejujurnya aku sudah bisa menerima keputusan atas hak prerogatifmu, aku juga sudah bisa bangkit dari sisa-sisa emosi dan ekspektasi, hanya saja aku masih...

Sampai detik ini masih seringkali berdesir di telinga dan ingatanku, setiap kata saat kau menepis sabdaku. Otakku juga masih merekam dengan jelas setiap tingkah perangaimu saat kuberucapkan sabda. Dan pesan pendek darimu, menghapusnya dari kotak masukku pun aku tidak sanggup...

Masih ada sedikit...eum...entahlah...pokoknya aku ingin berbicara denganmu. Tapi kapan kamu bisa? kapan kamu mau? denger2 kamu juga sedang dalam masalah ya? Aku bersedia membantu kok asal kamu mau membuka hatimu untuk segelintir orang yang peduli sama kamu, kayak aku.

Aku menunggu balasanmu segera...

Dari seorang yang masih berhutang untuk mengajarimu bermain drum. hehe. with love