Thursday, April 21, 2011

Sekalinya (baca: pertama kali) ngeliput berita beneran, ngeliput berita bom hahaha :P

Yup, seperti yg bisa dilihat dri judul post ini, itulah yg baru sore td gw alamin. Well, gw pernah sih ngewawancarain anak jalanan, guru besar hukum, aktivis LBH dan orang Transparancy International Indonesia. Tapi gada satu pun dari kegiatan jurnalistik itu yg terfokus dalam peliputan. Baru pertama kali gw terjun untuk ngeliput kejadian serius yg sungguh benar2 terjadi, dan itu adalah liputan mengenai bom!

I don't know what to say, am i gonna be proud or blessed that nothing turns bad, feel rebels ignores dangers. hahaha. Nano-nano deh rame rasanya! Gw secara live merasakan benar2 rasanya menjadi wartawan sesungguhnya, literaly! Gw berjumpa dengan polisi, pemadam kebakaran, dan wartwan2 senior lainnya. Merasakan atmosfer lapangan yg sebenarnya, bukan deskripsi di teksbook atau cerita-cerita dari dosen praktisi wartawan. Yang lebih gokil adalah karena ge ngeliput bom!

Berawal dr si Zharfan iseng sms dosen kelas foto jurnalistik kita, Bian Harnansa. "Pakbos ntar ada kelas ga?". "Gada, anakku sakit lagi di RSPP." Ga lama setelah itu, Preva sms Zharfan, "ada ancaman bom di Cathedral Christ." Gw belum terlalu merespon, soalnya gw msh sibuk ngurusin pmbritahuan bwt ank2 d kelas bhwa gada kelasnya Mas Bian. Kelar itu gw pstiin lg nelpon Mas Bian. "Pak beneran nih gada kelas?", "Iya anak saya sakit di RSPP. Eh iya ada ancaman bom lho di gereja situ deket Ashobirin. Naluri jurnalistikmu bilang apa?". Cabutlah gw ke TKP.

Gw ma Zharfan buta situasi, ga ngerti kabar, gatau info, maen cabut aja gitu bgtu tau ada bom. Lokasi kejadian itu bisa di akses dari 3 arah, kita coba lewat jalan dari The Springe, which is the nearest way to each that point. No surprising, jalanan di blokir ma polisi. Gw masih belaga bego di depan polisi.

"Pak ini ada apaan ya, kok diblokir?", "Biasa sterilisasi,", "Maksudnya Pak?", "Itu dalem ada gegana," jawab Pak polisi nyantai. "Hah! Ada gegana Pak? Emang ada bom?" gw belaga kaget. "Kabarnya sih gitu. Mas ini mau kemana ya?" Zarfan menyela masuk, "Ini Pak kami dari kampus UMN, mau tugas liputan,". "Ga bisa, jalur ini ud ditutup, kalian lewat jalan lain aja,".

Ga menyerah gw mencoba menghubungi Toro, temen gw yg kabarnya ud sampai di lokasi kejadian. Dia bilang lewat Pondok Hijau Golf aja, bisa tembus sampe deket. Cabutlah kita lgs kesana. Di tengah jalan, gw ketemu mobil Jawir yg mau lewat The Springe juga, gw suruh muter balik soalnya ditutup. Sampe di depan bunderan Crystal, ada pencegatannya juga.

"Dari mana Mas? Mau kemana mas?", "Dari kampus mau liputan,", "Aduh buat apa sih lw liputan2 gitu, uda2 pergi aja buat keselamatan lw juga!" gertak penjaga sedikit emosi nampaknya. Gw lirik kanan-kiri, ternyata ada anak kampus gw juga. Dia bawa surat ijin lengkap bwt liputan. Akhirnya dia jebol masuk sambil nunjukkin kartu mahasiswa yg ditafsirkan penjaga adalah kartu identitas pers. Reflek gw juga keluarin kartu identitas gw dari dompet. "Nah itu lw ada identitas, kenapa ga dari tadi!" ujar si penjaga itu. Tanpa basa-basi langsung kita capcus ke dalam. Jawir lain cerita, dia berpura-pura sebagai penghuni Crystal, jadi boleh masuk.

Akhirnya samapialh gw di batas terdekat dengan TKP. Gw hanya berjarak sekitar 200 Meter dari gereja Christ Cathedral. Hamparan polisi dan kawan2 media sudah berhamburan dsana. So this is it! the real condition on the field!

I was so stupid, pertama HP gw habis baterei, kalau nyalapun ga ada pulsa. Klo ada pulsa, at least gw bs ngecek dari detik yang katanya ud kabarin atau dari situ portal berita lainnya untuk skedar dapetin background informasi. I have no idea what allready going, what is going on and what next will be going on. Lalu kesalahan berikutnya adalah gw ga bikin dlu list pertanyaan, dan memperkirakan siapa aja yg ada disana untuk dimintai keterangan. Yg paling fatal adalah gw ga bawa kamera, jd gw ga mobile dan gw ga bs dapet gambar livenya. Seperti saat ini, gw jd ga bs nunjukkin ke kalian. Tunggu bsk ya gmbarnya dr kawan gw yg punya kamera. hehehe.

Akhirnya yg terjadi adalah gw pergi berhamburan secara serabutan, foto sana-sini dengan kamera pinjaman, mencoba menangkap establisihing shoot, yg mndeskripsikan suasana keseluruhan. Ada polisi ada media dan wartawan disana.

Gw mncoba nanya polisi dan security, jawaban nihil. Informasi gw dapatkan dari teman gw yg ngobrol dgn para wartawan sungguhan, cerita tentang ini itu dan lain sebagainya. Dag-dig-dug seer juga gw disana, pas denger kabar bom tersebut ledakannya samapi 150km. Keder juga gw dngernya. hahaha.

Lalu dateng kemudian Preva yg uda "dikontrak" sama Mas Bian buat jadi stringer di lokasi yg liputannya akan dikirim ke harian Tribune, tempat Mas Bian duduk di Kepala Bagian Fotografinya. Good job masbro! ;)

Gw pengen banget stay disana, tapi bener2 keadaan saat itu ga bisa. Gw pengen lebih dekat (baca : nongkrong) dengan para wartawan, cerita-cerita berbagi pengalaman, bangun koneksi dengan mereka. Tapi keadaan memaksa gw harus balik bwt gantian sama bokap yg nganter nyokap ke airport.

Gw ga patah arang, sambil pulang gw puter radio El-Shinta, radio berita yg top margotoplah pokoknya. Gw pantengin terus, kali aja ada live report dari lokasi tadi. Gw juga kroscek dengan cabut ke SGU (Swiss German University) yg konon juga mendapat teror bom. Tapi all clear, gadapapa disitu. Aman-aman aja. Gw pantengin terus tuh El-Shinta. Tapi berita yg gw nanti-nanti tak kunjung tiba. Setiap kali kelar iklan gw uda wanti-wanti dan harap-harap cemas ini beritanya, soalnya gw uda pasang HP gw untuk merekam live report itu, sbagai bahan tambahan gw mau coba nulis hardnews ttg hal ini. Nyetir pun gelisah dan konsen.

Pucuk di cinta ulam tiba, ketika perjalanan pulang hanya menyisakan sekitar 3 kilo dari rumah, akhirnya El-Shinta melaporkan live report dari sana. Gw ambil HP gw dan gw rekam. Sebetulnya gw pengen berenti sejenak, at least ngambil pulpen ama binder gw untuk mcatat beritanya, tp jalanan tidak menawarkan situasi yg menguntungkan untuk gw berhenti. Gw tau merekam siaran radio itu sama aja kek membajak dan itu against the law, tapi biarlah, gw ga ada intensi kesitu kok. So no problemlah ya. Hahahaha :D

Sampe rumah gw dengerin ulang rekaman dan gw catet semua data yg gw dpt dr radio. Gw nyalain Metro sama TV one untuk memperkaya berita yg akan gw tulis. Gw telpon Zharfan "reporter" on the spot gw. hhaha. Gw kroscek semua data dari El-Shinta, dan ternyata memang demikian. Gw nyalain laptop, aktifin inet. Langsung deh ini jari jemari menari dan melompat kesana kemari berkreasi. haha. Dan inilah hasilnya

http://regional.kompasiana.com/2011/04/21/ditemukan-bom-150kg-dekat-gereja-di-gading-serpong/

Liputan pertama yg seru dan menegangkan. Banyak hal yg ge pelajari disitu. Banyak pengalaman yg gw ambil dari situ.

What a hell of experience! :D

Monday, March 21, 2011

Noktah, Tatal, Mozaik Menuju Utuh


Tak ubahnya sepotong surga, begitulah inderaku menangkapmu

Seketika sangkakala mengumandang menggelora, pesonamu datang menyentuhku

Mungkin saat ini, aku tak ubahnya noktah di tengah kepungan garis-garis arus besar

Namun ingat garis pun berasal dari noktah yang tumbuh dan berkembang. Aku akan mencoba keluar, menyeruak, membuat guratan sampai akhirnya tatal tercacar. Hingga akan mudah kau jumpai, seperti pesonamu menggetarkan romaku yang senantiasa hadir dengan jari-jemarinya yang manis.

Layaknya tatal tercacar, begitu pula kepingan mozaik-mozaik yang tersebar. Kan kususun milikmu sambil menawarkan kembali mozaikku yang terbaik untuk juga kau susun. Berharap, kita berjumpa di tengah, mengisi kepingan mozaik yang terbelah. Merapat, menyatu, menjadi Utuh.


Ad Maiorem Dei Gloriam

Bene Krisna

Mengakali Realita dengan idealita (dan sebaliknya)


Mulai dari semester 4, gw berjumpa dengan seorang teman yang bernama Steven. Steven ini orangnya unik. Dia adalah seorang koleris murni. Dia akan melawan semua orang yang bertentangan di jalannya. Yang lucu adalah gw sangat berlawanan dengan konsep pemahamannya tentang hidup. Gw dengan konsep gw tentang hidup luhur, bahwa uang itu perlu namun bukan segala-galanya sementara Steven hidup tuh realistis aja coy! Kuliah tuh ga penting, yang penting cari kerja, uang, nikah, punya anak, punya rumah. Namun lucunya sekarang kita berteman baik. Dia tetap berada di jalannya, gw pun demikian. Kita saling menghargai hidup kami satu sama lain. Mungkin karena dia membutuhkan gw yang rajin untuk menaikkan IP-nya, tapi entahlah gw rasa dia bukan tipe manusia yg suka memanfaatkan teman. Buktinya dia setia dan ga MT, saat minta tolong nitip absen karena hujan, namun pas hujan selesai dia tetap datang ke kampus. Logikanya klo dia ud titip absen ke gw, cabut pun gpp dong? Dia ga melakukan demikian.

Kembali gw problema utama, hanya saja, di dalam hati gw merenung. Wartawan : impian gw, cita-cita gw, tidak menawarkan hidup jalur bunga. Gaji yang di tawarkan tidaklah besar. Memang sudah lama gw menanamkan dalam hati, uang itu perlu tapi bukan segala-galanya, tapi tetap saja gw takut akan ketidakpastian masa depan. Bagaimana dengan istri dan anak-anak gw nantinya? Gw mulai sedikit banyak terpengaruh Steven. Dia hampir tiap hari mengatakan, “Percuma kuliah. Bob Sadino aja bilang ‘untung saya ga kuliah, jadi bego dan kebanyakan mikir kayak kalian’.” Ibaratnya idealis gw mulai tergoyahkan dengan tawaran realistis.

Gw saat itu masih semangat sama ide gw, sampe akhirnya gw tenggelam dalam kesibukkan gw dalam HMJ dan KBM. Gw sibuk dan sangat sibuk. Ketika menjelang tidur gw selalu menyempatkan diri untuk berdialog dengan diri gw sendiri, “Krisna apakah lw uda berada di jalan yang benar? Liat deh sibuk lw tuh ga ngaruh sama masa depan lw (ga ada hubungannya dengan kewartawanan, dan ga ngehasilin uang (ya iyalah gw kerja sosial). Uda gitu lw tuh Cuma di tai2in anak2 kampus yg bilang lw ‘sekumpulan anak sok kritis yang pengen eksis”.

The big question is, am I have gone in a wrong way?

Ga semudah itu nyerah. Gw mencari jawabannya. Kebetulan gw sedang mencanangkan suatu program bernama #SabtuBerkualitas (bisa dibaca post sebelumnya) dengan berkunjung ke Salihara untuk mengikuti kuliah filsafat tentang keluhuran : sukses menurut filsafat Plato. Dari situ gw belajar, hidup yang lurus dan luhur. Namun yg trjadi adalah malah makin banyak pertanyaan dalam kepala gw. Wartawan, uang, dan realita. Hidup itu perlu uang man! Menurut arĂȘte (filsafat keluhuran) sukses adalah ketika hidup manusia luhur.

Sampe akhirnya Sabtu kemarin gw beli DVD film 3 idiots. Film ini tuh sadis kerennya. Film ini sarat nilai-nilai dan kritik sosial dalam masyarakat. Khususnya di dunia pendidikan. Yang menariknya adalah segala kritik tersebut disampaikan melalui bahasa semiotika yang ditampilkan baik secara verbal maupun non-verbal.

“If we chase glory and money, it comes temporary. But if we chase excellent, thus money and glory will come along to.” Artinya jika kita belajar dengan motivasi mencari uang dan pekerjaan, hal tersebut tidak akan ada habisnya. Tapi bila yang dicari adalah ilmu pengetahuan, maka uang dan kekayaan akan datang dengan sendirinya. Jangan terlalu terpaku pada system, namun fokuslah kepada bagaimana membuat mahasiswa mempunyai hasrat untuk belajar. Seperti yang di sampaikan oleh film ini, pendidikan itu memberikan ilmu pengetahuan untuk mahasiswanya, bukan pembekalan untuk dapat menjadi bibit unggul yang bersaing dalam dunia kerja.

Dari film ini gw seperti menemukan jawaban atas kegalauan gw. Takut bahwa idealism gw ini Cuma omong kosong belaka. Bahwa idealism gw hanya seperti serigala tanpa taring, atau domba berbulu serigala.

Film ini memberi gw inspirasi, jawaban yang membuat gw kembali bersemangat dan bergairah kembali, setelah untuk sementara gw dirundung ketidakpastian kaki dalam langkahnya. Tidak terlalu berlebihan, jika film ini sedikit banyak mempengaruhi jalan hidup gw.

Gw akan menjadi manusia yang mengakali realita dengan idealita. Panggilan gw adalah menjadi wartawan, seorang public speaker, dosen, cendikiawan, dan Maecenas. Namun gw ga menutup mata, hidup itu perlu uang, dan memiliki uang sebelum lulus kuliah merupakan salah satu cita-cita gw. Maka gw harus pandai mengakali realita sambil tetap konsisten di jalur idealita gw. Wartawan adalah panggilan hidup, dan gw sadar, gaji gw nantinya ga seberapa. Maka gw harus mengakalinya dengan tidak bersandarkan hidup dari situ, namun dari usaha, atau kerja dobel (jadi dosen misalnya kayak si kukum Ignas Haryanto, dosen yang paling gw segani dan hormati, panutan gw) Gw ga bodoh untuk keras kepala dengan idealism sempit macam itu. Tapi memang idealism gw seperti itu. Kebutuhan rohani (panggilan profesi) terpenuhi namun juga kebutuhan materi terpenuhi. Impian gw ingin memiliki komunitas atau sanggar kebudayaan Salihara. Sebuah komunitas kebudayaan yang nirlaba, dimana menjadi tempat berkumpul para aktivis, pandai cendikia, para seniman dan budayawan. Bukankah itu proyek idealis? Konsep atau ide saya adalah mengakali kenyataan dengan idelitas, atau sebaliknya?

Gw ga mau munafik, tapi memang itu panggilan jiwa (baca : idealism atau cita-cita) gw ingin menjawab panggilan gw (melakukan profesi yang gw senangi. Do what you love an love what you do!) dengan menjadi wartawan, dosen, seniman –Rockstar, penyair, budayawan- dan Maecenas. Sambil ingin memperoleh keadaan duniawi dari menjadi seorang enterprenuer.(Dalam waktu dekat gw mau coba bisnis kaos di kampus gw) Memiliki rumah yg asyik (berseni), menyekolahkan anak2 dan mghidupi istri dll. Idealisme gw adalah gw ga mau kalah oleh kenyataan. Gw harus gigih mendapatkan cita-cita gw. Gw mau jadi wartawan, tapi gw mau gw makmur. Bukan berarti wartawan itu selalu kere, namun gw ingin lebih aja. Lagipula kredit kesejahteraan yang kecil juga rentan mengusik independensi wartawan dengan salam tempel dan suap2 menyuap. Lagi-lagi langkah-langkah ini mengerucut pada tujuan2 idealis.

Unique? So pasti! Godbless! :D

Ad Maiorem Dei Gloriam

Bene Krisna

Mengakali Realita dengan idealita (dan sebaliknya)


Mulai dari semester 4, gw berjumpa dengan seorang teman yang bernama Steven. Steven ini orangnya unik. Dia adalah seorang koleris murni. Dia akan melawan semua orang yang bertentangan di jalannya. Yang lucu adalah gw sangat berlawanan dengan konsep pemahamannya tentang hidup. Gw dengan konsep gw tentang hidup luhur, bahwa uang itu perlu namun bukan segala-galanya sementara Steven hidup tuh realistis aja coy! Kuliah tuh ga penting, yang penting cari kerja, uang, nikah, punya anak, punya rumah. Namun lucunya sekarang kita berteman baik. Dia tetap berada di jalannya, gw pun demikian. Kita saling menghargai hidup kami satu sama lain. Mungkin karena dia membutuhkan gw yang rajin untuk menaikkan IP-nya, tapi entahlah gw rasa dia bukan tipe manusia yg suka memanfaatkan teman. Buktinya dia setia dan ga MT, saat minta tolong nitip absen karena hujan, namun pas hujan selesai dia tetap datang ke kampus. Logikanya klo dia ud titip absen ke gw, cabut pun gpp dong? Dia ga melakukan demikian.

Kembali gw problema utama, hanya saja, di dalam hati gw merenung. Wartawan : impian gw, cita-cita gw, tidak menawarkan hidup jalur bunga. Gaji yang di tawarkan tidaklah besar. Memang sudah lama gw menanamkan dalam hati, uang itu perlu tapi bukan segala-galanya, tapi tetap saja gw takut akan ketidakpastian masa depan. Bagaimana dengan istri dan anak-anak gw nantinya? Gw mulai sedikit banyak terpengaruh Steven. Dia hampir tiap hari mengatakan, “Percuma kuliah. Bob Sadino aja bilang ‘untung saya ga kuliah, jadi bego dan kebanyakan mikir kayak kalian’.” Ibaratnya idealis gw mulai tergoyahkan dengan tawaran realistis.

Gw saat itu masih semangat sama ide gw, sampe akhirnya gw tenggelam dalam kesibukkan gw dalam HMJ dan KBM. Gw sibuk dan sangat sibuk. Ketika menjelang tidur gw selalu menyempatkan diri untuk berdialog dengan diri gw sendiri, “Krisna apakah lw uda berada di jalan yang benar? Liat deh sibuk lw tuh ga ngaruh sama masa depan lw (ga ada hubungannya dengan kewartawanan, dan ga ngehasilin uang (ya iyalah gw kerja sosial). Uda gitu lw tuh Cuma di tai2in anak2 kampus yg bilang lw ‘sekumpulan anak sok kritis yang pengen eksis”.

The big question is, am I have gone in a wrong way?

Ga semudah itu nyerah. Gw mencari jawabannya. Kebetulan gw sedang mencanangkan suatu program bernama #SabtuBerkualitas (bisa dibaca post sebelumnya) dengan berkunjung ke Salihara untuk mengikuti kuliah filsafat tentang keluhuran : sukses menurut filsafat Plato. Dari situ gw belajar, hidup yang lurus dan luhur. Namun yg trjadi adalah malah makin banyak pertanyaan dalam kepala gw. Wartawan, uang, dan realita. Hidup itu perlu uang man! Menurut arĂȘte (filsafat keluhuran) sukses adalah ketika hidup manusia luhur.

Sampe akhirnya Sabtu kemarin gw beli DVD film 3 idiots. Film ini tuh sadis kerennya. Film ini sarat nilai-nilai dan kritik sosial dalam masyarakat. Khususnya di dunia pendidikan. Yang menariknya adalah segala kritik tersebut disampaikan melalui bahasa semiotika yang ditampilkan baik secara verbal maupun non-verbal.

“If we chase glory and money, it comes temporary. But if we chase excellent, thus money and glory will come along to.” Artinya jika kita belajar dengan motivasi mencari uang dan pekerjaan, hal tersebut tidak akan ada habisnya. Tapi bila yang dicari adalah ilmu pengetahuan, maka uang dan kekayaan akan datang dengan sendirinya. Jangan terlalu terpaku pada system, namun fokuslah kepada bagaimana membuat mahasiswa mempunyai hasrat untuk belajar. Seperti yang di sampaikan oleh film ini, pendidikan itu memberikan ilmu pengetahuan untuk mahasiswanya, bukan pembekalan untuk dapat menjadi bibit unggul yang bersaing dalam dunia kerja.

Dari film ini gw seperti menemukan jawaban atas kegalauan gw. Takut bahwa idealism gw ini Cuma omong kosong belaka. Bahwa idealism gw hanya seperti serigala tanpa taring, atau domba berbulu serigala.

Film ini memberi gw inspirasi, jawaban yang membuat gw kembali bersemangat dan bergairah kembali, setelah untuk sementara gw dirundung ketidakpastian kaki dalam langkahnya. Tidak terlalu berlebihan, jika film ini sedikit banyak mempengaruhi jalan hidup gw.

Gw akan menjadi manusia yang mengakali realita dengan idealita. Panggilan gw adalah menjadi wartawan, seorang public speaker, dosen, cendikiawan, dan Maecenas. Namun gw ga menutup mata, hidup itu perlu uang, dan memiliki uang sebelum lulus kuliah merupakan salah satu cita-cita gw. Maka gw harus pandai mengakali realita sambil tetap konsisten di jalur idealita gw. Wartawan adalah panggilan hidup, dan gw sadar, gaji gw nantinya ga seberapa. Maka gw harus mengakalinya dengan tidak bersandarkan hidup dari situ, namun dari usaha, atau kerja dobel (jadi dosen misalnya kayak si kukum Ignas Haryanto, dosen yang paling gw segani dan hormati, panutan gw) Gw ga bodoh untuk keras kepala dengan idealism sempit macam itu. Tapi memang idealism gw seperti itu. Kebutuhan rohani (panggilan profesi) terpenuhi namun juga kebutuhan materi terpenuhi. Impian gw ingin memiliki komunitas atau sanggar kebudayaan Salihara. Sebuah komunitas kebudayaan yang nirlaba, dimana menjadi tempat berkumpul para aktivis, pandai cendikia, para seniman dan budayawan. Bukankah itu proyek idealis? Konsep atau ide saya adalah mengakali kenyataan dengan idelitas, atau sebaliknya?

Gw ga mau munafik, tapi memang itu panggilan jiwa (baca : idealism atau cita-cita) gw ingin menjawab panggilan gw (melakukan profesi yang gw senangi. Do what you love an love what you do!) dengan menjadi wartawan, dosen, seniman –Rockstar, penyair, budayawan- dan Maecenas. Sambil ingin memperoleh keadaan duniawi dari menjadi seorang enterprenuer.(Dalam waktu dekat gw mau coba bisnis kaos di kampus gw) Memiliki rumah yg asyik (berseni), menyekolahkan anak2 dan mghidupi istri dll. Idealisme gw adalah gw ga mau kalah oleh kenyataan. Gw harus gigih mendapatkan cita-cita gw. Gw mau jadi wartawan, tapi gw mau gw makmur. Bukan berarti wartawan itu selalu kere, namun gw ingin lebih aja. Lagipula kredit kesejahteraan yang kecil juga rentan mengusik independensi wartawan dengan salam tempel dan suap2 menyuap. Lagi-lagi langkah-langkah ini mengerucut pada tujuan2 idealis.

Unique? So pasti! Godbless! :D

Ad Maiorem Dei Gloriam

Bene Krisna