Thursday, December 8, 2016

Saya pernah bermimpi tinggi.
Jalan-jalan keluar negeri, sekolah lagi di luar negeri, punya mobil dan rumah bagus yang ada studio bandnya buat nongkrong anak2 juga perpustakaan karena saya telah jadi wartawan kenamaan tempat untuk diskusi ya ala-ala BBJ atau salihara gitu, dllsb-nya.

Itu bagus.

Tapi makin kusadari, impianku yg terluhur dan terkuat itu sederhana saja.

Menikah, berkeluarga, punya pekerjaan yang layak dan gaji yang cukup, merawat anak-anak, keluargaku bahagia, bapak-ibuku dan kakakku semuanya bergembira hidup tanpa beban.

Itu saja impianku. Semoga Tuhan memeluk mimpi-mimpi umatnya. Godbless us

*ditulis malam hari kebangun, habis baca epaper koran kantor lalu berupaya beranjak tidur lagi

Tuesday, July 26, 2016

Resep Jitu Blink-182 untuk Kembali ke Puncak

Album baru Blink-182: California (1 Juli 2016)


Pergantian personil dalam sebuah band, apalagi vokalis dengan suara khas, tentu menimbulkan kekhawatiran pada penggemar bahwa band akan berubah. Kekhawatiran akan terjadi perubahan gaya baru yang segar namun tidak disukai penggemar atau sebaliknya. Pilihan lainnya, setia bermain dengan gaya lama dan berharap tetap menarik penggemar.

Opsi terakhir itulah yang dipilih band punk-rock-pop, Blink-182, dalam album terbarunya yang bertajuk California. Sempat diragukan penggemar karena keluarnya sang vokalis cum gitaris, Tom Delonge, California bertengger di peringkat pertama album terbaik di Inggris seperti dikutip situs Officialcharts. Album ketujuh Blink-182 ini mampu menyisihkan album 25 dari Adele di peringkat kedua, dan album A Head Full of Dreams oleh Coldplay di peringkat ketiga. 

Prestasi itu diraih bahkan hanya seminggu setelah album mereka resmi beredar 1 Juli lalu. Ini adalah kali pertama bagi band asal San Diego, California, Amerika Serikat, sejak terbentuk tahun 1992. Kuncinya adalah konsisten memainkan gaya lama yang jadi ciri khas mereka. 

Masuknya Matt Skiba, mantan vokalis dan gitaris grup band Alkaline Trio, menggantikan Tom ternyata tidak mengubah banyak warna musik Blink-182. Bersama dengan Mark Hoppus (pemain bas dan vokalis) dan Travis Barker (pemain drum), trio ini masih menawarkan musik menghentak, nada-nada sederhana dalam balutan perpaduan vokal dua suara, dan kord-kord sederhana gitar dan bas yang mudah diingat. 

Dalam tunggalan andalan album ini, Bored to Death, not dan suara gitar yang dimainkan Matt Skiba di awal lagu mirip dengan permainan gitar Tom dalam lagu Adam’s Song dari album Enema of The State, 1999. Permainan drum Travis pun membawa kembali ingatan pada lagu Feeling This dari album Blink-182  tahun 2003, dengan ketukan yang variasi dan hentakan yang cepat. Vokal dan permainan bas Mark pun tampil memberi ritme dan mengisi musik. 

Meski demikian tak dipungkiri bahwa Blink-182 kehilangan Tom. Tidak ada lagi suara cempreng dengan gaya menyanyi pengejaan kata dengan lantang dan sedikit dialek Australia yang jadi ciri khas Tom. 

Warna suara Matt yang tidak jauh berbeda dengan Mark dan gaya permainan Matt yang tidak jauh berbeda dari Tom, membuat seakan hanya penambah personil saja. Alhasil  dari 16 lagu yang ada dalam California, suara Mark lebih banyak mendominasi. Adapun Matt lebih banyak menyanyi suara dua (alto) melatari vokal Mark. 

Karakter suara Matt baru terdengar jelas saat kedapatan menyanyi bagian refren dalam lagu Los Angeles dan Teenage Satelites. Bahkan bisa dibilang, hanya lagu Los Angeles saja yang bisa memberikan panggung gambaran siapa dirinya.  Sebab, lagu ini aransemennya agak beda dengan lagu lainnya dan Matt lebih mendominasi vokalnya. 

Selisih pendapat 

Pilihan untuk setia pada ‘jalur’ warna musik itu berbuah manis dengan kesuksesan. Padahal, karena inilah sang vokalis karismatik yang juga salah satu pendiri band, Tom Delonge, dikeluarkan dari band pada awal 2015. Tom sendiri sampai saat ini merasa belum keluar dari Blink-182. 

Mengutip situs Billboard, Travis mengungkapkan, sejak beberapa album terakhir Tom ingin sekali Blink-182 menghasilkan musik seperti U2 dan Coldplay. “Mark dan saya tidak pernah ingin berubah. Blink adalah Blink, Bung. Kami ingin bermusik seperti Blink,” ujar Travis. 

Travis mengungkapkan, keinginan Tom untuk mengubah warna musik Blink-182 sudah terjadi sejak proses penggarapan album Neighborhoods yang dirilis 2011. Di album ini, gebukan drum Travis tidak seheboh album sebelumnya, coba buktikan lewat lagu Love Is Dangerous. Dalam lagu Up All Night, not dan kord yang dimainkan tak biasa mereka gunakan sebelumnya. Lagu-lagu di album ini pun banyak diwarnai musik elektro, yang mirip digunakan band proyek pribadi Tom, Angel and Airwaves. 

Adapun Tom sendiri jenuh dengan warna musik Blink-182 sehingga band harus membuat suara baru. “Menurut saya, kami harus terus berkembang,” ujar Tom seperti dikutip majalah Rolling Stone edisi Juni 2016. Tom sendiri kini sibuk mengerjakan kegandrungannya akan luar angkasa melalui novel yang ia tulis bersama A.K Hartley yang berjudul Sekret Machines Book 1: Chasing Shadows.  

Padahal harus diakui, kekuatan Blink-182 sebelumnya adalah karena trio formasi lama itu masing-masing memiliki karakter yang kuat. Perpaduan vokal yang sama-sama unik dari Tom dan Mark diiringi dengan gebukan drum yang super cepat, enerjik, dan variatif oleh Travis. Untungnya pilihan untuk tetap setia pada akar dan benang merah musik mereka berbuah manis. 

Juga diposting di : http://www.kompasiana.com/benekrisna/resep-jitu-blink-182-untuk-kembali-ke-puncak_5796159a729373373991f02e

Monday, June 27, 2016

Review Album The Gateaway - Red Hot Chili Peppers

Tulisan gue review tentang album baru Red Hot Chili Peppers- The Gateaway. Terbit di harian Kompas, Minggu 26 Juni 2016 halaman 20

Thursday, June 16, 2016

Terbaik Sejauh Ini

yang terbit Kompas, Rabu (15/6)

naskah aslinya

Lawan Terkuat Sang Jawara

Sejak ratusan tahun, silat atau 'maen pukul' menjadi andalan dan kebanggaan di tanah Betawi. Para jawara dan warga Betawi menggunakannya untuk membela diri dan melawan pihak kolonial Belanda.  Tetapi kini para jawara dan silat Betawi dihadapkan pada lawan ‘terkuat’ yaitu perubahan zaman.

Pada abad 19, hidup jawara silat Betawi, Si Pitung. Ia menjadi legenda lantaran jasanya merampok tuan tanah Betawi dan Master Cornelis dan membagikannya untuk rakyat kecil. Karena aksinya ia dijuluki “Robin Hood Betawi” (Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe, Alwi Shahab, 2001).

Kini, silat Betawi telah beralih fungsi menjadi kesenian tradisional dan olahraga bela diri semata. Berdasarkan data Persatuan Pencak Silat Putra Betawi, yang dikutip dari buku “Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi” karya G.J Nawi (2016), saat ini ada 317 aliran silat tradisional Betawi. Meski jumlahnya banyak, nyatanya silat Betawi belum menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri.

Berbeda dengan tempat latihan ilmu bela diri asing yang biasanya berada di pusat kebugaran, pusat keramaian, dan ruko di pinggir jalan, lokasi sanggar silat Betawi berada di antara gang-gang kecil pemukiman Jakarta. Untuk bisa menemukan perguruan Silat Bheksi Tradisional Haji Hasbullah (THH) di Ciledug misalnya, harus menyusuri gang kecil berukuran sekitar 1,5 meter. Lokasinya sekitar 10 meter dari jalan raya, di balik rumah-rumah warga.

Kondisi lokasi serupa juga terjadi di sanggar kesenian Betawi dan silat tradisional Sanggar Si Pitung di Rawabelong, Jakarta Barat. Tidak hanya soal lokasi, namun eksistensi silat Betawi pun kian terpinggirkan.

“Saya punya teman, dia guru Bheksi, salah satu aliran silat tradisional Betawi. Tapi anaknya malah lebih tertarik belajar Tae Kwon Do. Malu itu babehnye," ujar Bactiar (45), pendiri Sanggar Si Pitung, Jumat (10/6).

"Yang lebih serem lagi, itu teknologi, bikin anak-anak nggak cuma lupa kebudayaan, sholat aja lalai," lanjut pegiat silat Betawi Cingkrik ini. Padahal, dulu warga Betawi dikenal akan dua hal sholat dan silat.

Bachtiar menilai, masih tradisionalnya pola pikir para pegiat silat membuat hal ini kalah oleh zaman. Masih ada silat Betawi yang latihannya harus diam-diam di ruangan tertutup dan malam hari. “Dulu begitu untuk menghindari Belanda. Kalau sekarang jadi aneh. Beda dengan latihan Karate yang terbuka,” ujar Bachtiar.

Selain itu, masih banyak pula kegiatan silat ini berjalan tanpa yayasan atau badan hukum yang jelas membuat silat sulit berkembang. Marlian (46) dan Hendra (41) pegiat silat Betawi Seliwa dari Kelurahan Sewan, Tangerang, tidak memiliki perguruan yang jelas. Mereka hanya belajar pada orang-orang yang dinilai mampu silat. Ilmu silat itu menjadi bekal Hendra yang bekerja sebagai petugas keamanan pabrik di Tangerang.

Serangan balik

Meski demikian, berbagai pihak tetap berusaha melancarkan ‘serangan balik’ terhadap keadaan zaman agar bisa tetap eksis. Guru besar Silat Bheksi Tradisional Haji Hasbullah (THH) Sabenuh Masir beberapa waktu lalu membuat Nada Sambung Pribadi (NSP) petuah silat bekerjasama dengan Telkomsel. “Biar silat tetap ada dan terpromosikan setiap ada yang telpon saya,” ujar Ketua Umum Silat Bheksi Tradisional Haji Hasbullah (THH), Achmad Rofi (36) yang juga merupakan putra dari Sabenuh.

Harapan silat ini masih bisa diteruskan ke anak-anak terlihat saat perguruannya mencatat 397 orang pada pendaftaran siswa baru Desember 2015. “Meskipun nanti juga menyusut karena seleksi alam, tapi yang menggembirakan, mayoritas pendaftar adalah anak-anak dan remaja,” ujar pengurus generasi ketiga THH ini rumahnya di Ciledug, Tangerang, Jumat (10/6).

Saat ini, THH memiliki sekitar 1.000 siswa yang aktif. Mereka tersebar di 22 cabang yang aktif, yakni di Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Depok.

Silat Betawi juga masih kerap menunjukkan eksistensinya melalui upacara Palang pintu. “Dalam sebulan  bisa 3-4 kali kami tampilkan Palang Pintu. Bisa untuk acara pernikahan Betawi, peresmian gedung, ulang tahun, atau acara-acara lain,” ujar Sahroni, Ketua Sanggar Seni Setu Babakan.

Harapan untuk mempertahankan kebudayaan silat Betawi ini tertuang dalam Peraturan Daerah DKI Jakarta No.4/2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi yang menyebutkan pelestarian kebudayaan Betawi diselenggarakan melalui pendidikan. 

Sebelum Kompas pamit, Bachtiar menyisipkan pantun penuh pesan. Begini bunyinya:  Dari Ciawi ke cabang bungin /Ke Cipete lewat Semanggi /Seni Budaya Betawi kudu kite kembangin/Kalo bukan kite siapa lagi// . Setuju beh! (C11)