Monday, July 30, 2012

Jakarta, Kota Sejuta Asa


Waktu itu saya sedang bercakap-cakap dengan teman soal Jakarta. Usai asyik membahas soal pilgub, dia menyuruh saya melakukan sesuatu, “Coba deskripsikan Jakarta dengan satu kalimat!”

Lalu saya menjawab, “Jakarta, kota sejuta asa.”

Bayangkan kurang lebih sepuluh juta manusia bergulat di dalamnya. Bahkan sebelum matahari genap mengudara di angkasa, mereka bangun pagi sekali setiap harinya, bukan karena tidak bisa tidur atau hobi begadang, namun karena harus segera bersiap membanting tulang untuk menabur asa menyemai rezeki. Kota yang tidak pernah tidur bahkan saat malam berganti hari. Semua demi asa tentang kehidupan yang lebih baik.

Mulai dari pedagang gedongan sampai asongan, karyawan sampai buruh pabrik, sopir pribadi sampai sopir angkot, anak jalanan sampai anak sekolahan, musisi ibukota sampai musisi bus kota, pegawai bank sampai penagih hutang, perantau sampai pribumi, aparat keamanan sampai preman, juragan sampai majikan. Semua bersama-sama bergumul mencari penghidupan di Jakarta. Semua demi sebuah asa tentang kehidupan yang lebih baik.

Namun sayangnya kota ini begitu kejam. Kota ini bukan tempat yang ramah untuk menyemai asa sepuluh juta manusia Jakarta itu. Macet, banjir, kriminalitas tinggi, akses pendidikan dan kesehatan yang sulit terjangkau semua silih berganti berusaha mematikan asa di hati. Dengan segala penuh sesak masalahnya, Jakarta sukses menempati peringkat ketujuh dari sepuluh kota paling dibenci di dunia menurut survey yang dilakukan media di Amerika, CNN. (sumber: http://www.tempo.co/read/news/2012/06/12/199410144/10-Kota-Paling-Dibenci-Jakarta-Nomor-Tujuh) Menurut CNN, Jakarta sama halnya dengan buah durian, berbau menyengat dan butuh ''perjuangan'' untuk menikmatinya.
.
Pemimpin yang Bisa Wujudkan Asa jadi Nyata

Menurut hasil penghitungan KPU atas pilgub putaran pertama, 11 Juli lalu, terpilih dua kandidat dengan perolehan suara terbanyak yaitu Jokowi-Ahok dan Foke-Nara untuk kembali bertarung di pilgub putaran kedua  (Sumber : http://pilkada.tempo.co/konten-berita/pilkada_dki/2012/07/20/418207/Calon-Gubernur-Jakarta-Putaran-II-Ditetapkan)

Ini saatnya perubahan. Mari memilih calon pemimpin yang bisa mengenyahkan masalah dan mampu  menggiring asa masyarakat menjadi nyata.

Punya visi misi, tegas, jujur, berintegritas, cinta dan mengerti pada rakyat. Pemimpin yang Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani . Sebuah ciri pemimpin yang sudah lama hilang di Indonesia. Adakah salah satu dari mereka yang memenuhi kriteria itu?  Bagaimana pendapat masyarakat Jakarta?

Menurut Politicawave, sebuah lembaga yang meriset opini masyarakat di dunia maya soal pilkada, Foke-Nara punya indeks persepsi yang kurang bagus di mata masyarakat, dibandingkan dengan Jokowi-Ahok.

Grafik Persepsi dan Citra Cagub di dunia Maya. (Sumber : www.politicawave.com)

Namun memilih gubernur bukan soal citra positif. Pilih yang paling mampu menahkodai Jakarta keluar dari segala problematikanya.


Perubahan di Jakarta bukan tidak mungkin, menilik Jakarta sudah mengantongi salah satu syarat yang diperlukan: asa untuk jadi lebih baik. Semua itu tinggal digenapi dengan hadirnya pemimpin yang mampu bekerja secara nyata mewujudkannya. Menjadikan Jakarta tak lagi durian, tapi permata Asia Tenggara dan dunia.

No comments:

Post a Comment