Thursday, June 16, 2016

Terbaik Sejauh Ini

yang terbit Kompas, Rabu (15/6)

naskah aslinya

Lawan Terkuat Sang Jawara

Sejak ratusan tahun, silat atau 'maen pukul' menjadi andalan dan kebanggaan di tanah Betawi. Para jawara dan warga Betawi menggunakannya untuk membela diri dan melawan pihak kolonial Belanda.  Tetapi kini para jawara dan silat Betawi dihadapkan pada lawan ‘terkuat’ yaitu perubahan zaman.

Pada abad 19, hidup jawara silat Betawi, Si Pitung. Ia menjadi legenda lantaran jasanya merampok tuan tanah Betawi dan Master Cornelis dan membagikannya untuk rakyat kecil. Karena aksinya ia dijuluki “Robin Hood Betawi” (Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe, Alwi Shahab, 2001).

Kini, silat Betawi telah beralih fungsi menjadi kesenian tradisional dan olahraga bela diri semata. Berdasarkan data Persatuan Pencak Silat Putra Betawi, yang dikutip dari buku “Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi” karya G.J Nawi (2016), saat ini ada 317 aliran silat tradisional Betawi. Meski jumlahnya banyak, nyatanya silat Betawi belum menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri.

Berbeda dengan tempat latihan ilmu bela diri asing yang biasanya berada di pusat kebugaran, pusat keramaian, dan ruko di pinggir jalan, lokasi sanggar silat Betawi berada di antara gang-gang kecil pemukiman Jakarta. Untuk bisa menemukan perguruan Silat Bheksi Tradisional Haji Hasbullah (THH) di Ciledug misalnya, harus menyusuri gang kecil berukuran sekitar 1,5 meter. Lokasinya sekitar 10 meter dari jalan raya, di balik rumah-rumah warga.

Kondisi lokasi serupa juga terjadi di sanggar kesenian Betawi dan silat tradisional Sanggar Si Pitung di Rawabelong, Jakarta Barat. Tidak hanya soal lokasi, namun eksistensi silat Betawi pun kian terpinggirkan.

“Saya punya teman, dia guru Bheksi, salah satu aliran silat tradisional Betawi. Tapi anaknya malah lebih tertarik belajar Tae Kwon Do. Malu itu babehnye," ujar Bactiar (45), pendiri Sanggar Si Pitung, Jumat (10/6).

"Yang lebih serem lagi, itu teknologi, bikin anak-anak nggak cuma lupa kebudayaan, sholat aja lalai," lanjut pegiat silat Betawi Cingkrik ini. Padahal, dulu warga Betawi dikenal akan dua hal sholat dan silat.

Bachtiar menilai, masih tradisionalnya pola pikir para pegiat silat membuat hal ini kalah oleh zaman. Masih ada silat Betawi yang latihannya harus diam-diam di ruangan tertutup dan malam hari. “Dulu begitu untuk menghindari Belanda. Kalau sekarang jadi aneh. Beda dengan latihan Karate yang terbuka,” ujar Bachtiar.

Selain itu, masih banyak pula kegiatan silat ini berjalan tanpa yayasan atau badan hukum yang jelas membuat silat sulit berkembang. Marlian (46) dan Hendra (41) pegiat silat Betawi Seliwa dari Kelurahan Sewan, Tangerang, tidak memiliki perguruan yang jelas. Mereka hanya belajar pada orang-orang yang dinilai mampu silat. Ilmu silat itu menjadi bekal Hendra yang bekerja sebagai petugas keamanan pabrik di Tangerang.

Serangan balik

Meski demikian, berbagai pihak tetap berusaha melancarkan ‘serangan balik’ terhadap keadaan zaman agar bisa tetap eksis. Guru besar Silat Bheksi Tradisional Haji Hasbullah (THH) Sabenuh Masir beberapa waktu lalu membuat Nada Sambung Pribadi (NSP) petuah silat bekerjasama dengan Telkomsel. “Biar silat tetap ada dan terpromosikan setiap ada yang telpon saya,” ujar Ketua Umum Silat Bheksi Tradisional Haji Hasbullah (THH), Achmad Rofi (36) yang juga merupakan putra dari Sabenuh.

Harapan silat ini masih bisa diteruskan ke anak-anak terlihat saat perguruannya mencatat 397 orang pada pendaftaran siswa baru Desember 2015. “Meskipun nanti juga menyusut karena seleksi alam, tapi yang menggembirakan, mayoritas pendaftar adalah anak-anak dan remaja,” ujar pengurus generasi ketiga THH ini rumahnya di Ciledug, Tangerang, Jumat (10/6).

Saat ini, THH memiliki sekitar 1.000 siswa yang aktif. Mereka tersebar di 22 cabang yang aktif, yakni di Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Depok.

Silat Betawi juga masih kerap menunjukkan eksistensinya melalui upacara Palang pintu. “Dalam sebulan  bisa 3-4 kali kami tampilkan Palang Pintu. Bisa untuk acara pernikahan Betawi, peresmian gedung, ulang tahun, atau acara-acara lain,” ujar Sahroni, Ketua Sanggar Seni Setu Babakan.

Harapan untuk mempertahankan kebudayaan silat Betawi ini tertuang dalam Peraturan Daerah DKI Jakarta No.4/2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi yang menyebutkan pelestarian kebudayaan Betawi diselenggarakan melalui pendidikan. 

Sebelum Kompas pamit, Bachtiar menyisipkan pantun penuh pesan. Begini bunyinya:  Dari Ciawi ke cabang bungin /Ke Cipete lewat Semanggi /Seni Budaya Betawi kudu kite kembangin/Kalo bukan kite siapa lagi// . Setuju beh! (C11)
 


1 comment: