Friday, November 30, 2012

Mengejar Jokowi (Bab III: Makanya Fokus!)


Berpikir Out Of The Box

Paginya setelah selesai nyuci baju segala macem, gue langsung siap2 dan berangkat. Gw pun khusus membawa helm agar bisa bepergian jarak jauh dengan Alvin naik motor, biar ga ditilang. Hari ini gue mau coba rute baru yaitu naik TransJakarta Harmoni baru habis itu jalan ke Balaikota. Hanya sekedar membandingkan, mana yang lebih cepat juga hemat karena jalur ini menghemat Rp2000 perjalanan gue.
Namun, rupanya memang ada harga yang harus dibayar untuk kecepatan. Jalur menuju Harmoni macet panjang. Mulai dari Lebak Bulus sampai Kebon Jeruk. Setelah itu bus bisa lumayan melaju. Yang menarik adalah saat sampai di halte Grogol, tiba-tiba ada seorang mbak-mbak yang mengaku HP-nya hilang. Entah saat sudah di bus atau saat masih di terminal. Alhasil saat sampai di Harmoni, petugas memeriksa penumpang satu per satu. Entah bagaimana akhirnya, karena usai selesai diperiksa saya tinggal saja. Malas berurusan dengan hal seperti itu. Jam 9 akhirnya gue sampai juga di halte Harmoni, lalu melanjutkan perjalanan sampai ke Balaikota.

Sesampainya di balkot, gue melihat sudah ada beberapa rombongan orang bermotor dan sebuah bus membawa bendera. Agaknya nanti siang akan ada demonstrasi di depan balaikota.

Gue menghubungi Alvin dan bertemu. Rupanya waktu kedatangan kami ga jauh beda, entah siapa duluan yang dateng, yang jelas hampir bareng. Abis itu gue diperkenalkan dengan beberapa koleganya dulu saat magang dulu di detik.com. Suasana di beranda depan balkot ramai. Kali ini bukan hanya diisi wartawan tapi juga dengan kehadiran banci-banci. Ya banci atau lebih enak kalau gue sebut waria. Ngapain waria itu ke balaikota?

Jadi begini, belum lama ini Jokowi baru saja menunaikan kebijakannya yang pertama yaitu KJS (Kartu Jakarta Sehat), jadi warga Jakarta cukup memberikan KTP Jakarta saja, akan mendapatkan KJS. Nah KJS ini bisa digunakan untuk berobat gratis di puskesmas. Masalah muncul ketika para waria ini tidak punya KTP karena (maaf) ketidakjelasan kolom jenis kelamin. Jadi mereka tak punya KTP untuk mendapatkan KJS. Rumit ya memang. Ada pula kabar berhembus kalau mereka ingin membuat acara untuk mengangkat derajat kaum waria, lalu dengan bintang tamu Jokowi. Entahlah yang mana yang betul motif mereka.

Di tengah obrolan bersama waria dan beberapa wartawan balaikota, tiba-tiba mobil Jokowi jalan. Sekejap saja dia sudah hilang, karena pandangan gue terhalang kerumunan orang disana. Gue pun bertanya sama salah seorang wartawan detik di situ, "Mobil Jokowi tadi udah keluar ya?"

"Ga kok, mobilnya ada di pintu belakang," jawabnya. 

Ga pake mikir panjang, gue langsung pergi ke pintu belakang. Jadi balaikota itu punya dua pintu masuk, pintu depan dan pintu belakang. Ketika mendengar bahwa mobilnya ke belakang, gue punya feeling bahwa dia akan keluar lewat pintu belakang dan langsung pergi dengan mobilnya. Karena apa? Di depan sana ada gerombolan waria dan pintu gerbang ada rombongan pendemo yang tengah bersiap, gue yakin Jokowi akan menolak menemui wartawan untuk memberikan keterangan,karena pasti wartawan akan menanyakan soal demo dan waria itu. Menurut gue Jokowi itu bukan orang yang suka bikin bola panas, dengan omong-omongan yang kontroversial. Gue rasa dia adalah tipe orang yang ga akan berbuat sesuatu jika ia belum yakin betul (contoh pembangunan MRT yang masih tarik ulur, karena dia merasa belum yakin akan proyek tersebut). Maka gue yakin dia ga akan lewat pintu depan, lagipula ga masuk akal juga kalau Jokowi harus keluar dari pintu depan terus pergi sampai ke belakang, bayangkan ada berapa pertanyaan wartawan yang harus ia jawab? Gamblingnya adalah dia tidak pergi saat itu dengan mengkandangan mobilnya di belakang. Tapi ada juga isu yang mengatakan bahwa ia akan ke Setu Babakan. Hampir pastilah dia keluar. Tidak salahnya mengikuti naluri dan mencoba menunggu di dekat mobilnya.

Gue pun duduk di dekat pintu masuk belakang. Gue membuka tas gue dan mengeluarkan amplop surat permohonan versi gue itu. Baru beberapa saat duduk, lalu tiba-tiba saja Jokowi keluar dari pintu belakang. Dengan segera gue bangkit dan mengejarnya.

Menyerahkan Surat

"Pak Jokowi, ini Pak saya mau mengajukan wawancara eksklusif dengan Bapak. Saya sudah mengajukan secara formal dengan Humas Bapak, tapi tak mendapat jawaban. Deadline saya Desember Pak, jadi saya harus segera wawancara Bapak," ujar gue sambil mengikuti kecepatan langkahnya

"Ya, Ya, Ya," jawabnya singkat sambil mengangguk.
"Ini Pak, saya bawa surat permohonannya, saya sudah tulis semua disitu. Lalu di belakangnya ada lampiran surat permohonan, dan surat tugas dari kantor sebagai bukti identitas saya." Lalu gue memberikan surat itu.

Jokowi pun menerima surat gue. Langkahnya terhenti entah karena telah mencapai mobilnya atau hanya untuk melongok sebentar surat saya. 

"Jadi kapan Pak saya bisa wawancara Bapak?"
"Nanti di aturkan jadwalnya sama Devid," ujarnya sambil menunjuk orang di belakang gue, yang ternyata bernama Devid.

Jokowi pun berlalu masuk mobilnya. Sejurus kemudian melesat mobil itu ke arah pintu gerbang balaikota. Di saat bersamaan dari arah depan, datang sambil berlari gerombolan wartawan dan waria yang hendak menemui Jokowi, namun semua dilewatinya. Jokowi berlalu langsut melesat pergi.

"Dapet Kris?" tanya Alvin yang juga datang bersama gerombolan wartawan, namun dia agak cepat datang, karena dia berhasil mendapatkan foto gue sedang berbicara dengan Jokowi tadi.


"Dapet dong Vin. Hoki banget gue, pas doi lagi sepi, ya udah gue samperin aja," ujar gue sambil sumringah bahagia.

"Surat Lw uda di dia?" tanya Alvin
"Yoi dong, sukses banget."

Seperti biasa, sejurus kemudian balkot mendadak sepi. Para wartawan lainnya sudah melesat mengejar Jokowi.

"Vin anak-anak uda pada cabut ya?" 
"Iya Kris."
"Kejar yuk Vin!"
"Ah gue lagi males Kris. Jauh ke Setu Babakan. Kalau mau nyetir motor gue gapapa deh."
"Ayo Vin gue bawa!" Jawab gue sekenanya. Nekat! Tapi Alvin tetap menolak. Ya uda deh gapapa, gw nothing to loose juga, toh gue uda berhasil memberinya surat gue langsung ke tangannya. Mungkin dia akan menghubungi gue atau gimana pun entahlah. Itu saja kemungkinananya, pikir gue saat itu.

Liputan Intermezo dan Jalan-jalan

Lalu kami memutuskan tidak ada lagi yang bisa dikerjakan di balkot, lalu kita pergi ke sebelah ke Perpusnas. Setali tiga uang dengan kunjungan gue sebelumnya, kali ini giliran Alvin yang membuat kartu anggota perpusnas disana. Setelah selesai berkunjung ke perpusnas, di luar tengah berkerumun massa pendemo. Rupanya mereka adalah buruh yang berdemo. Setelah selesai makan siang, gue dan Alvin iseng-iseng mengambil gambar mereka. Yah lumayan liputan intermezo.




Suasana demonstrasi buruh di depan kantor Balaikota DKI Jakarta, Rabu (21/11). Demonstrasi kali ini masih dengan agenda yang sama yaitu untuk mempertegas soal kebijakan outsourcing dan peningkatan UMP menjadi Rp 2,2 juta/ bulan.

Setelah itu Alvin mengajak gue pergi ke TIM untuk nonton Europe on Screen di Kineforum. Sebelum sampai di kineforum yang terletak di belakang, kita main dulu ke pameran tentang Jakarta di ruangan depan Kineforum.

Rampung melihat pameran, kita ruang belakang Kineforum, dan surprise! Kita ketemu sama Shirley Tamara. Doi adalah senior gue di Jurnalistik UMN. Gue emang pernah denger kalo dia sekarang jadi pegiat di Kineforum, tapi ga nyangka aja bisa ketemuan disini. Kak Shir, lagi jaga Kineforum dan segera doi menawarkan kami untuk menonton. Namun sayangnya, karena jamnya kurang cocok,dan ternyata Alvin lupa sudahada janji sama anak basket temannya, maka kami mengurungkan niat kami untuk menonton. Di saat yang sama gue dapat kabar dari anak balkot kalo Jokowi ga balik lagi, doi mau langsung pulang. Maka gue putuskan untuk balik aja. Alvin kemudian mengantarkan gw ke halte busway Harmoni dan dia pergi ke tempat temannya. Di tengah perjalanan, resleting tas gue ngeror ga bisa ditutup. Alhasil gue membeli peniti dan harus meiti seluruh bagian reseliting gue agar tas gue ga kebuka-buka. Fiuuuhhh....

Hari itu rasanya cukup menyenangkan karena rasanya gw beruntung sekali bisa memberikan surat permohonan wawancara secara langsung kepada Jokowi. Namun rupanya hari yang nampaknya beruntung itu, berakhir dengan penyesalan dan kesialan.

Sial karena gue lupa membawa turun helm dari angkot saat pindah angkot. Lalu kesialan berikutnya saat sudah sampai rumah, gue lagi leyeh-leyeh di kamar sambil baca berita, gue terperangah membaca berita yang membuat sungguh menyesal mlewatkan kesempatan siang hari tadi. Jadi siang itu Jokowi mengajak beberapa wartawan untuk satu mobil dengannya. Beliau menawarkan diri untuk di ajak ngobrol dan di wawancara secara khusus dari perjalan Setu Babakan menuju Waduk Riario di Jakarta Timur. Apalagi dia sambil mengajak sekretaris daerah bagian dinas pertamanan yang mengurus RTH (Ruang Terbuka Hijau) Jakarta. SIAL GUE HARUSNYA IKUT TUH! Huufthh.... sial sekali gue rasanya. Menyesal sekali. Harusnya gue fokus dan jangan cepat puas dulu dengan Cuma kasih surat ke Jokowi. Harusnya gue paksa Alvin buat nempel dan kuntit dia terus.

Frustrating? Yeah of course! It seems like that loe dikit lagi berhasil, tapi karena salah loe, karena loe ga fokus, karena loe kurang persistent, you blow up your own chance. Probably the only real chance! And you missed it!

No comments:

Post a Comment