Saturday, June 9, 2012

Budiman : Idealnya, Menggabungkan Substansi dengan Atribut


 (versi Hardnews)

            Anggota Komisi Dua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) dari fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Budiman Sudjatmiko, menjadi dosen tamu pada kuliah umum matakuliah Komunikasi Politik di Student Lounge, Universitas Multimedia Nusantara, Sabtu (26/5). Pada kuliah umum yang dimoderatori oleh Dosen Komunikasi Politik Universitas Multimedia Nusantara Nosami Rikadi, Budiman menekankan strategi komunikasi politik yang ideal adalah menggabungkan informasi substantif dan atribut.
            “Umumnya politisi menekankan pada atribut dan kosong saat membicarakan substansi. Idealnya mengemas strategi komunikasi politik dengan menggabungkan atribut dengan substansi itu.” ujar Budiman di depan sekitar dua ratusan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara.
            Budiman menerangkan bahwa ada dua jenis informasi dalam komunikasi politik yaitu informasi substantif dan informasi atribut. Menurut pria kelahiran Cilacap, 10 Maret 1970 ini, informasi substantif adalah informasi yang terkait langsung inti permasalahan. Sedangkan informasi atribut adalah hal-hal seputar yang melekat pada politisi pada saat rapat, presentasi atau tampil di depan publik.
            “Informasi substantive itu contohnya rancangan undang-undang. Sedangkan atribut lebih mudah dilihat, seperti rupa dan apa saja yang dikenakan si politisi, latar belakangnya apa dan sebagainya.”          
“Kebebasan demokrasi Indonesia berdiri di atas asumsi bahwa negara bisa memilih pejabat publik secara tepat. Diasumsikan masyarakat itu well-inform. Masyarakat bisa dengan mudah mengakses semua informasi yang dibutuhkan untuk mampu memilih politisi yang tepat,” ujar pria yang pernah tiga setengah tahun mendekam di bui saat penghujung era orde baru. “Tapi faktanya tidak setiap orang bisa nerima, karena kadar kognitifnya dalam menerima informasi itu berbeda-beda. Masyarakat umumnya lebih mudah mengenali informasi atribut, yang ada di permukaan saja.”
Karena menurutnya, ada tiga tahap yang harus dilalui untuk menjadi politisi handal yaitu; tahap substansi, pencitraan dan kekuasaan. “Politisi yang baik harus menguasai materi, itu tahap pertama. Lalu  dia harus lakukan lobi politik untuk langkah konsolidasi politik yang kuat. Setelah kuat, maka ia punya kekuatan untuk melakukan sesuai pemahaman materi substansinya.” (BKY)

Budiman Sudjatmiko memberikan kuliah umum tentang komunikasi politik di Universitas Multimedia Nusantara, Gading Serpong, Tangerang, Sabtu (26/5). (Benediktus Krisna Yogatama)


Budiman : Idealnya, Menggabungkan Substansi dengan Atribut


(versi feature)            
Sabtu, 26 Mei 2012, saat matahari belum genap beredar di puncak orbitnya, Universitas Multimedia Nusantara (UMN) kedatangan tamu istimewa untuk menambah daya intelektualitas mahasiswanya, khususnya kelas komunikasi politik. Bisa dibilang istimewa karena dia seringkali disebut sebagai simbol personifikasi dari gerakan pemuda angkatan 98, sebuah gerakan yang mengantar reformasi, yaitu penyusunan kembali format-format sistem dan perangkat negara, gerakan yang menjatuhkan rezim berkuasa saat itu, Orde Baru. Pernah pula ia enyam vonis 13 tahun penjara karena dengan lantang menentang sang penguasa. Ia adalah Budiman Sudjatmiko.
            Setelah sempat terjadi kegaduhan akibat telatnya beliau sampai di lokasi karena berbagai alasan non-teknis, juga membuat sebagian mahasiswa hilang simpati akibat tidak menyebut ‘nusantara’ melainkan ‘nasional’ saat menyebut UMN, Budiman membuka kuliah umumnya dengan penjelasan mengenai kondisi konstelasi politik Indonesia saat ini.
            “Kita memasuki era demokrasi liberal. Era multipartai,” ujarnya di hadapan ratusan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komunikasi UMN. Kemudian ia menjelaskan bahwa di era ini kebebasan berpendapat, ekspresi dan informasi dilindungi oleh payung hukum, sehingga demokrasi dan liberalisasi mendapatkan koridornya. “Jauh lebih baik dibandingkan otoriterian. Demokrasi dengan segala keburukannya masih jauh lebih baik,” ujar Budiman usai bercerita soal beberapa temannya yang dibunuh ataupun hilang usai mengkritisi pemerintah saat itu (orde baru).
            “Kebebasan demokrasi Indonesia berdiri di atas asumsi bahwa negara bisa memilih pejabat publik secara tepat. Diasumsikan masyarakat itu well-inform. Masyarakat bisa dengan mudah mengakses semua informasi yang dibutuhkan untuk mampu memilih politisi yang tepat,” ujar pria yang pernah tiga setengah tahun mendekam di bui saat penghujung era orde baru.
“Tapi faktanya tidak setiap orang bisa nerima, karena kadar kognitifnya dalam menerima informasi itu berbeda-beda. Masyarakat umumnya lebih mudah mengenali informasi atribut, yang ada di permukaan saja, ketimbang informasi substansi yang jadi pokok pembahasan.”
            Budiman menerangkan bahwa ada dua jenis informasi dalam komunikasi politik yaitu informasi substantif dan informasi atribut. Menurut pria kelahiran Cilacap, 10 Maret 1970 ini, informasi substantif adalah informasi yang terkait langsung inti permasalahan. Contohnya rancangan undang-undang, rumusan kebijakan dan lain sebagainya. Sedangkan informasi atribut adalah hal-hal seputar yang melekat pada politisi pada saat rapat, presentasi atau tampil di depan publik. Warna dan cara pakaian, potongan rambut, cara berorasi, dan hal seputar yang melekat padanya adalah contoh informasi atribut.
            “Umumnya politisi menekankan pada atribut dan kosong saat membicarakan substansi. Idealnya mengemas strategi komunikasi politik dengan menggabungkan atribut dengan substansi itu.” ujar Budiman yang memberi kuliah umum di Student Lounge, gedung kampus Universitas Multimedia Nusantara, Gading Serpong, Tangerang.
            Kemudian ia mengambil contoh pada kampanye Obama untuk mencalonkan diri menjadi presiden pada tahun 2008. Obama memperkuat tim sukses kampanyenya dengan merekrut seorang neuro-scientist, seorang ahli kerja otak. Menurut ahli kerja otak itu, manusia punya respon beragam dalam menanggapi informasi. Ada berbagai cara mereka mengolah informasi yang mereka terima, mulai dari yang bersikap reflektif dan refleksive, ada pula yang evaluative, pun kognitif. Celakanya adalah mayoritas manusia merespon itu adalah dengan sikap refleksive, secara spontan memutuskan suka atau tidak suka hanya dalam beberapa menit impresi pertama yang didapat dari informasi atribut. Mengapa? Respon refleksive didorong atas rasa emosional yang terpicu dari menanggapi stimuli dari politisi yang berkampanye, yang seringkali mengaburkan pertimbangan rasional kognitif sekalipun. Karena untuk menelan informasi substantive, seseorang butuh waktu, sedangkan atribut, hanya dalam beberapa menit saja, informasi itu telah lunas ditelan seseorang dan dicerna menjadi sikap: suka atau tidak suka.
Relevansinya apa dengan komunikasi politik di era demokrasi liberal? Karena sistem ini merestui suara terbanyak sebagai pemenang yang sah, maka itu perlu dilakukan strategi komunikasi politik yang tepat agar mampu meraih simpatik public agar mampu mendulang banyak suara saat pemilihan umum. Sekali lagi Budiman menekankan pada penggabungan informasi substansi dengan informasi atribut.
Budiman juga menambahkan ia tetap yakin bahwa ‘kualitas’ yang ‘dibungkus’ secara tepat adalah senjata ampuh mendulang suara saat pemilihan umum.
Karena menurutnya, ada tiga tahap yang harus dilalui untuk menjadi politisi handal yaitu; tahap substansi, pencitraan dan kekuasaan. “Politisi yang baik harus menguasai materi, itu tahap pertama. Lalu  dia harus lakukan lobi politik untuk langkah konsolidasi politik yang kuat. Setelah kuat, maka ia punya kekuatan untuk melakukan sesuai pemahaman materi substansinya.”

No comments:

Post a Comment